TNI melalui Kodim 0908/Bontang bersama Batalyon Arhanud 7/ABC melakukan kerja bakti lanjutan dengan fokus pada upaya mitigasi darurat untuk mencegah banjir dan longsor susulan yang berpotensi mengancam permukiman warga Kampung Timur.
Langkah penanganan sementara difokuskan pada pembangunan tanggul darurat, perbaikan saluran drainase serta pembuatan jembatan sementara di Jalan Nusantara yang dilakukan sebagai respons cepat atas kondisi darurat sekaligus untuk mengendalikan aliran air yang sebelumnya mengarah langsung ke kawasan permukiman warga.
Danramil 01/Loktuan Kodim 0908/Bontang Kapten Arhanud Jhon Bay menjelaskan, pengerjaan telah berlangsung dua hari dengan progres signifikan. Selain pembangunan infrastruktur darurat, personel TNI juga melakukan pembersihan material longsor yang masuk ke rumah warga serta pengamanan sementara pada titik-titik rawan longsor.
“Penanganan ini bersifat sementara, fokus kami mengendalikan aliran air agar tidak kembali masuk ke permukiman. Kami upayakan hari ini bisa dimaksimalkan hingga sore untuk tahap awal,” kata Jhon kepada Korankaltim.com di lokasi Selasa (20/1/2026).
Keterlibatan TNI merupakan bagian dari respons cepat kebencanaan sambil menunggu penanganan lanjutan yang lebih permanen dari pemerintah daerah. Saat ini koordinasi dengan Pemerintah Kota Bontang terus dilakukan, termasuk dengan Dinas PUPR dan tim konsultan teknis yang telah meninjau langsung kondisi lapangan.
“Penanganan jangka panjang tentu membutuhkan kajian teknis. TNI membantu pada fase awal agar kondisi warga lebih aman sambil menunggu pembangunan permanen,” jelasnya.
Pembangunan tanggul sementara dirancang agar tidak menimbulkan dampak baru, khususnya bagi kawasan Jalan Nusantara. Karena itu pengaturan jalur air menjadi prioritas utama sebelum pemasangan tanggul dilakukan.
Tanggul darurat tersebut dibangun menggunakan karung berkapasitas sekitar satu ton yang diisi tanah dan pasir, dengan tujuan meningkatkan daya tahan terhadap tekanan aliran air. Meski demikian, ia memperkirakan tanggul hanya mampu bertahan sekitar dua hingga tiga bulan.
“Dalam waktu itu harus ada tindak lanjut berupa pembangunan turap atau bronjong permanen di area tebing yang longsor agar risiko bisa ditekan secara maksimal,” tegas Jhon.
Sementara Komandan Batalyon Arhanud 7/ABC Bontang Letkol Bayu Adiwisuda menyampaikan keterlibatan personel TNI merupakan bentuk kepedulian dan empati terhadap warga terdampak bencana. Pada hari ini, satu pleton atau sekitar 31 personel diturunkan secara bergilir untuk menjaga efektivitas dan stamina prajurit.
“Harapannya, langkah darurat ini bisa memberi rasa aman sementara bagi warga. Namun solusi jangka panjang tetap menjadi kebutuhan utama,” ujar Bayu.
Editor: Aspian Nur