Ambruknya dua rumah pertama terjadi 1 September hari Senin awal bulan lalu yang merupakan rumah milik Burhan dan Ramlan). Kedua rumah roboh hampir bersamaan, beruntung tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut. Ketua RT 06 Hasanuddin menyebut tiang rumah yang lapuk digerogoti kapang sejenis rayap serta terpaan angin kencang menjadi penyebab utama jatuhnya dua rumah itu ke laut.
Dua pekan berselang, tepatnya pada Kamis (25/9/2024) kemarin kembali dua rumah warga di kawasan tersebut ambruk, berada di RT 06 dan RT 20 dan runtuh setelah hujan deras mengguyur kawasan pesisir disertai hembusan angin kencang. Satu diantara rumah yang runtuh merupakan tempat tinggal, sementara satunya lagi berupa pondok warga.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bontang Usman menyebut konstruksi rumah di atas laut seharusnya dibuat lebih kokoh.
“Idealnya tiang penyangga minimal berukuran 8x8 senti atau 10x10 senti serta harus dilengkapi palang silang sebagai penguat antar tiang,” jelas Usman saat dikonfirmasi Korankaltim.com Jumat (26/9/2025) hari ini.
Kondisi cuaca yang tidak menentu belakangan ini membuat warga harus lebih waspada. Mayoritas rumah di Bontang Kuala masih berbahan kayu dan berdiri di atas tiang pancang, sehingga rawan mengalami kerusakan bila tidak dibangun sesuai standar.
Bontang Kuala sendiri merupakan kawasan pemukiman tradisional diatas laut yang menjadi ikon Kota Taman. Keunikan wilayah ini menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan, namun sekaligus menyimpan risiko karena hampir seluruh bangunan bertumpu pada tiang kayu di perairan.
Pemerintah setempat bersama pihak kelurahan akan terus memantau kondisi rumah warga maupun fasilitas umum di Bontang Kuala. Pemantauan itu, kata dia, akan dilaporkan ke instansi terkait bila diperlukan, agar langkah perbaikan maupun penguatan bisa segera dilakukan.
Upaya ini diharapkan dapat mencegah peristiwa serupa terulang dan memberikan rasa aman bagi warga yang tinggal di kawasan pesisir tersebut.
Editor: Aspian Nur