Hal ini dilakukan guna memastikan makanan bergizi (MBG) untuk anak sekolah terjaga kualitas, higienitas dan keamanan bahan bakunya.
Lokasi yang ditinjau meliputi SPPg di Guntung, Kanaan, Halal Square, Tanjung Laut dan Hop. Dari hasil pengecekan, kondisi bahan makanan relatif aman, meski Agus mengingatkan agar pengelola tidak menyimpan stok terlalu lama.
“Untuk bahan basah seperti daging, ayam, dan ikan sebaiknya maksimal dua hari saja. Jangan sampai lebih, agar tetap segar dan layak diolah,” ujarnya.
Menurutnya, sidak dilakukan sebagai langkah antisipasi agar kasus keracunan makanan yang sempat terjadi di daerah lain tidak terjadi di Bontang.
Pemerintah, bergerak cepat memastikan proses penyediaan MBG benar-benar higienis, mulai dari dapur, pengantaran, hingga penerimaan di sekolah.
“Pihak sekolah juga wajib memeriksa makanan sebelum diberikan ke anak-anak. Jangan hanya menerima, tapi harus dibuka dulu, dicek kualitasnya, lalu diawasi saat disajikan. Ini penting untuk menjamin anak-anak makan dengan layak dan sehat,” tegasnya.
Ia menilai, sebagian dapur sudah cukup baik dengan tingkat kebersihan mencapai 90 persen. Namun, ada juga yang masih perlu pembenahan, terutama di ruang pendinginan dan tempat penyimpanan sayur.
“Ada yang bersih sekali, tapi ada juga yang masih sekitar 70 persen. Kita minta semua pengelola memperhatikan kebersihan dapur, peralatan masak, hingga bahan pangan segar seperti sayur yang bisa saja masih ada ulat,” jelasnya.
Koordinator Wilayah Balai Gizi Nasional (BGN) Bontang, Surya menambahkan SPPg di Kanaan sudah berjalan lancar selama tiga bulan terakhir, dengan distribusi mencapai 3.000 porsi makanan setiap harinya.
Hal ini menunjukkan program pemenuhan gizi mendapat respons baik dari masyarakat.
Agus Haris berharap sinergi pengelola, sekolah, dan pemerintah daerah bisa menjaga kualitas makanan yang diberikan.
Ia menilai, jika semuanya konsisten menjaga higienis, dirinya yakin siswa-siswi akan mendapat gizi yang layak dan sehat.
Editor: Erwin