Angka tersebut menurun jika dibandingkan pada Maret 2024 yang tercatat lebih dari 7.100 jiwa atau 3,74 persen.
Kepala BPS Bontang, Nur Wahid, mengatakan tren penurunan ini merupakan hasil dari Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) yang digelar pada Maret 2025.
Survei dilakukan dengan metode sampling rumah tangga untuk melihat kemampuan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan pokok.
“Kalau disetarakan, jumlah penduduk miskin di Bontang saat ini 6.180 orang. Tahun lalu angkanya di atas 7.000 ribu, jadi ada penurunan signifikan,” jelasnya saat ditemui, Senin (15/9/2025).
Meski begitu, ia mengingatkan data BPS tidak mendetail hingga per nama dan alamat, melainkan bersifat makro. Artinya, angka tersebut lebih menggambarkan kecenderungan umum, bukan jumlah penerima bantuan secara administratif.
Menurutnya, penurunan jumlah penduduk miskin tak lepas dari membaiknya aktivitas ekonomi di Bontang, khususnya di sektor industri, perdagangan, dan jasa.
Pertumbuhan tersebut membuka peluang kerja baru sehingga mengurangi tekanan terhadap kelompok rentan.
Namun, masih ada tantangan besar terutama bagi masyarakat pesisir, pekerja informal, dan buruh harian yang penghasilannya fluktuatif.
“Kelompok ini rawan kembali jatuh miskin bila harga bahan pokok naik atau ada perlambatan ekonomi,” ujarnya.
Ditambahkannya, menjaga stabilitas daya beli masyarakat menjadi kunci agar angka kemiskinan terus menurun.
Upaya pengendalian harga kebutuhan pokok dan perluasan kesempatan kerja disebut penting untuk menekan risiko munculnya kembali kantong-kantong kemiskinan di kota industri ini.
Editor: Erwin