Sejak sore, arus pengunjung sudah terlihat ramai. Puncaknya terjadi usai salat Magrib hingga penutupan, saat lapangan penuh sesak oleh masyarakat yang antusias berbelanja sekaligus menyaksikan hiburan gratis. Antusiasme tersebut sekaligus memberi dampak besar bagi para pedagang yang ikut serta.
Safa, pemilik Kebab Suuyy mengaku omzet dagangannya meningkat pesat selama festival berlangsung. Jika biasanya hanya meraih Rp3,5 Juta di awal buka, kali ini ia bisa mengantongi hingga Rp7 Juta sampai Rp8 Juta dalam sehari.
“Lebih ramai lagi kalau ada even besar, apalagi artis juga berpengaruh menarik masyarakat,” ujaf Safa.
Banyaknya pilihan menu dari berbagai UMKM membuat pengunjung betah berlama-lama di lokasi. Apalagi stand yang disediakan gratis, tanpa pungutan biaya.
“Kami sudah punya NIB, jadi kegiatan ini bisa jadi bahan acuan agar ke depan lebih baik lagi,” katanya.
Hal serupa juga dirasakan pedagang jajanan ringan seperti sosis, telur gulung, hingga es teh. Omzet yang biasanya hanya Rp1 Juta per hari, kali ini tembus Rp2,5 Juta.
Tidak hanya pelaku usaha, pengunjung pun mengaku puas. Muliana, warga Bontang, menyebut festival ini bukan hanya tempat kulineran, tapi juga hiburan keluarga.
“Saya senang sekali, terhibur dengan acara ini. Harapannya ada lagi tahun depan,” kata Muliana.
Riri, pengunjung lainnya menambahkan, hiburan gratis yang disajikan menjadi daya tarik tersendiri.
“Tidak perlu bayar, bisa nonton artis dan jajan sekalian. Pokoknya seru,” ucap Riri.
Pengunjung lain,Fadli, juga mengapresiasi keberadaan festival ini. Ia menilai event UMKM menjadi ruang bagi warga untuk menikmati jajanan khas lokal sambil mengisi waktu bersama keluarga. Ia berharap kegiatan semacam ini bisa dijadikan agenda tahunan.
“Anak-anak senang sekali, bisa jajan banyak menu unik. Jadi tidak hanya hiburan, tapi juga wisata kuliner,” sebut Fadli
Festival UMKM Berbenah 2025 sendiri berlangsung sejak 7 hingga 10 September, menghadirkan lebih dari 100 tenan UMKM lokal dengan aneka menu kuliner. Acara ini tidak hanya meningkatkan omzet pedagang, tapi juga menjadi ajang mempererat silaturahmi masyarakat sekaligus menggerakkan roda perekonomian Kota Bontang.
Editor: Aspian Nur