"Gelombang airnya itu nah jadinya masuk. Sudah banjir kena gelombang terus," keluhnya.
Meski sudah ada pengalihan arus lalu lintas, namun dirinya masih kerap menyaksikan mobil dan motor yang memaksa masuk. Pemandangan motor mogok, mobil mati mesin di tengah genangan banjir pun, ia saksikan cukup sering.
Jika sudah seperti itu, ia hanya bisa berharap hujan lebat tak mengguyur terus menerus. Karena kalau berharap dari upaya pemerintah, ia mengaku cukup kecewa. Pasalnya, ia menilai tidak ada langkah konkrit yang nyata terlihat.
"Kami berharap nya ada upaya. Tapi kalo enggak ada ya sudah, semoga hujannya enggak lama-lama," tutupnya.
Senada dengan Suparti, ada Pairan yang juga mengeluhkan hal serupa. Kali ini, saat ditemui di depan rumahnya di RT 12 Gunung Telihan, Bontang Barat, ia berdiri dengan pandangan diarahkan ke arah genangan banjir di jalan yang tinggal sejengkal lagi masuk ke dalam rumahnya itu.
Ia berseragam lengkap, sambil memegang alat komunikasi walkie talkie, sembari sesekali menjawab suara dari alat itu. Rupanya pukul 11.40 wita itu, masih jam kerjanya di salah satu perusahaan yang ada di Bontang. Namun, ia harus pulang lantaran telepon dari sang istri mengharuskan dirinya meminta izin untuk memantau kondisi rumah.
"Barang-barang harus diangkat untuk antisipasi. Karena banjir biasanya masuk ini. Tapi sudah aman, sudah diangkat semua," katanya kepada media ini.
Hal itu dilakukan karena pengalaman di banjir-banjir sebelumnya. Kata dia, bahkan air banjir kuning kecoklatan ini sudah pernah masuk rumahnya hingga setinggi lutut. Sebelumnya, lemari kayunya bahkan harus diikhlaskan, beserta tiga perabotan elektronik lainnya.
"Kalau udah hujan ya pasti was-was. Makanya pas tadi kerja langsung pulang dulu ke rumah," kata dia.
Dari raut wajah murah senyumnya itu, sepertinya dia sudah legowo. Meskipun katanya, ia pernah mendengar bahwa akan ada normalisasi sungai di kawasan itu, untuk penanganan banjir. Tapi ia pun tak berharap banyak soal wacana itu.
"Ya katanya ada pengerukan. Tapi harapan kami sih ada Bendungan, biar airnya ditampung di sana kan. Ini kan dari hulu, ngalirnya ke kota semua," katanya.
Dari data yang dihimpun, sudah enam kelurahan yang tergenang dalam peristiwa banjir hari ini. Di antaranya Kelurahan Gunung Telihan, Kelurahan Kanaan, Kelurahan Api-api, Kelurahan Gunung Elai, Kelurahan Guntung, dan Kelurahan Satimpo.
Wakil Wali Kota Bontang Najirah pun diketahui sempat turun langsung memantau beberapa titik banjir. Orang nomor dua di Bontang itu pun sudah meminta perusahaan bisa membantu masyarakat untuk memberikan bantuan berupa makanan kepada korban banjir.
Selanjutnya di setiap kelurahan juga dirinya meminta untuk mendirikan dapur umum dan bisa mengalokasikan makanan bergizi bagi warga yang terdampak banjir.
"Kita sudah minta perusahaan untuk membantu korban banjir yang melanda Kota Bontang," kata Najirah.
Penulis: Romi Ali Darmawan
Editor: Supiansyah