Banyak penulis baru yang akhirnya menyerah untuk berkarya. Banyak faktor yang dinilai menjadi kendala mereka. Mulai dari tak tahu peluang pasar, gaya penulisan yang tidak diterima oleh zaman, hingga tidak konsisten dalam berkarya.
Berikut ini, para penulis yang tergabung dalam perkumpulan SATUPENA Kaltim, membagikan pengalamannya dalam mengarungi pasar karya sastra, hingga berhasil menjadi penulis yang memiliki pendapatan tinggi, hingga eksistensi yang melejit di tengah gempuran moderenisasi yang menjadi-jadi.
Para penulis tersebut adalah Sriningsih Hutomo sebagai penulis buku dan novel digital yang juga seorang guru di SMAN 3 Bontang. Muhammad Thobroni, seorang dosen di Universitas Borneo Tarakan, Panji Aswan seorang penyair dari Samarinda yang buku puisinya menjadi nomine pada lomba yang diadakan oleh Kantor Bahasa Kaltim, dan Fitri Gita Cinta seorang writerpreneur dan pemilik penerbitan “Githa Cahya Media Aksara” dari Balikpapan.
Lalu bagaimana Berfikir Ala Penulis Kolonial namun Bertindak Ala Penulis Milenial dan Digital menurut para penulis ini. Berikut rangkuman yang diterima Koran Kalltim, dalam kegiatan bincang karya SATUPENA KALTIM dengan tema Penulis Hebat dari Era Kolonial, baru-baru ini.
Menurut Sriningsih Hutomo salah satu penulis dari Bontang ini mengatakan, kemudahan menulis di era milenial adalah menciptakan tulisan-tulisan yang mampu merangkul seluruh pembaca milenial melalui novel digital. Hal ini Sriningsih pun telah diaplikasikan ke karya-karyanya lewat platform digital.
Sriningsih hadir lewat novel-novelnya untuk menginspirasi pembaca yang kebanyakan dari kalangan muda agar tetap mengedepankan edukasi dan kepribadian yang baik. Sembari menunjukkan salah satu novelnya yang telah terbit berjudul 'Malam Bungkam'.
Ia mengisahkan bahwa view novelnya tinggi karena cerita novel tersebut adalah cerita-cerita ringan yang di sukai pembaca, kisah-kisah sederhana dari remaja di seputar kehidupannya, keluarga, kuliah, kerja sampai berumah tangga. Namun ia mencoba tetap menyisipkan unsur budi pekerti dan nilai-nilai luhur.
Nining menuturkan bahwa seorang novelis dan akuntan, Tere Liye pernah mengatakan, sumber tulisan paling tidak ada tiga, buku, traveling dan mengobrol dengan orang lain. Ketiganya dilakoni oleh Nining panggilan akrabnya. Perjumpaan dengan orang lain, pengetahuan dari buku dan hasil traveling yang pernah ia alami bisa untuk setting cerita novel-novelnya. Novel yang ia garap salah satunya memiliki misi mengenalkan kota tinggalnya yaitu Bontang Kaltim.
"Prinsipnya dalam menulis sebagai tokoh milenial adalah membuat tulisan yang simpel, tidak bertele-tele, muda dipahami, berorientasi adsense dan mengandung cuan, tulisan mudah dimuat di media digital, tidak pansos belaka, tidak baper, tidak lag dan tidak noob serta tidak kena mental," terangnya, dalam paparan singkatnya.
Sementara itu, Muhammad Thobroni menilai penulis berfikir dengan sudut pandang orang kolonial maka tulisannya tersebut harus baik, edukatif, nilai moralitas yang tinggi, mengedukasi pembaca, dan tulisannya mendukung pembangunan generasi muda serta bangsa Indonesia dan sebagai media publikasi harus melewati prosedur untuk dapat masuk ke penerbitan resmi atau penerbit mayor.
"Namun, hal di atas lantas apakah akan menjual tulisan kita? Jawabannya belem tentu, dan bisa jadi jawabannya adalah tidak!. Bagaimana caranya agar tulisan kita laku di pasaran, namun tetap menjunjung tinggi nilai kehormatan sebuah tulisan dalam bentuk buku. Berproses kreatif ala penulis kolonial, namun bertindak sebagai penulis ala milenial dan digital lah jawabannya," ucapnya
Panji Aswan mengatakan menulis dengan berfikir ala milenial tak lantas hanya mengikuti tren gaya milenial saja, namun akan keren jika juga menggeluti sastra. Ia pun menunjukan karyanya berbentuk buku puisi berjudul Doa Puisi, Panji mengenalkan bahwa karya puisi-puisinya telah ia bukukan dalam sebuah buku dan pada September 2021 mendapat nomine kategori buku puisi oleh Kantor Bahasa Kaltim pada 2021.
Selain sebagai penyair dunia kuliner digelutinya mencirikan khas anak milenial yang sedang bersaing menjajal keberuntungan di bidang kuliner dan kafe milenial, namun ia tetap memiliki eksistensi pada dunia sastra khususnya kepenulisan puisi.
Terakhir, menurut Fitri Gita Cinta. Kata dia, penulis harus jeli melihat peluang pasar. Hal itu ia lakukan untuk terus mendongkrak eksistensinya sebagai penulis. Mengawali karir sebagai penulis kemudian mengembangkan sayap menjadi seorang penerbit bukan hal yang muda namun dapat dilakoninya hingga sekarang. Memiliki penerbitan menjadi wahana ia mendapat cuan dan tetap eksis dalam dunia kepenulisan.
Pemilik penerbitan “ Githa Cahya Media Aksara” dari Balikpapan ini mengatakan, ia ingin generasi-generasi muda sekarang ini dapat melihat peluang pasar, dan melihat media penerbitan sebagai lahan cuan bagi mereka, di tengah sulitnya mencari kerja.
"Hal itu dapat menjadi jawaban dan salah satu peluang yang dapat dilakukan siapa saja, selama mau berusaha pasti bisa," pungkasnya.
Penulis: Romi Ali Darmawan
Editor: Supiansyah