Pengakuan Sodik, pagi itu sekitar pukul 10.00 Wita, bertemu dengan almarhum disalah satu warung kopi di terminal Bontang. Pakde terlihat lemas, kata Sodik, mungkin pengaruh sakit itu. Ia hanya minum susu sebentar, kemudian berpamitan untuk kembali ke tempatnya biasa beristirahat.
Pada momen itu, kata Sodik, sempat menyarankan untuk Pakde Tongkat untuk pulang ke kampungnya, Sodik tahu jika di kota ini Pakde tidak memiliki sanak-saudara.
"Saya sempat menyarankan untuk pulang ke kampung, tapi katanya, dia tidak punya uang untuk pulang," ungkap Sodik kepada Korankaltim, Minggu (19/9/2021) saat ditemui di rumahnya, Jalan Balikpapan RT 28, Kelurahan Telihan, Bontang Barat.
Dari pengakuan Sodik, tersingkap cerita Surip adalah seorang perantau dari Batu Licin, Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan. Dia bisa bertahan hidup dari bantuan warga sekitar. "Sehari-hari Pakde itu numpang tidur sebelah warung itu, alasnya kursi sama bantal satu, kasian tidak punya rumah dan keluarga di sini," jelasnya.
Ibrahim, warga RT 15 yang merupakan orang pertama yang mengetahui kematian Pakde. Da juga tahu kalau Pakde sakit. Sore kemarin itu, sebenarnya sudah khawatir terjadi apa-apa, biasanya Pakde setiap sorenya selalu nimbrung bersama mereka untuk sekedar bercengkrama di bawah pohon ceri di samping warung makan tempatnya beristirahat. "Namun, sore itu almarhum tidak terlihat," ujarnya.
Berangkat dari itu bersama warga yang lain datang melihat di tempatnya beristirahat. Ternyata kondisinya sudah berbeda badannya terlihat pucat dan kaku. "Sudah meninggal waktu kami datang, namun kami tidak berani menyentuh, karena takut nanti ada apa-apa," beber Ibrahim.
Untuk memastikan, Ibrahim meminta salah satu warga melapor ke RT setempat. Ketua RT 28 Telihan, Erni Wati mengatakan baru mengetahui informasi Pakde Tongkat meninggal dari seorang warga yang datang melapor ke dirinya, sekitar pukul 16.59 Wita kemarin.
Dari itu, ia melaporkan kepihak Kelurahan Telihan, karena sambungan telepon Babinkamtibmas tidak ada jawaban. Tak berselang lama, dirinya dan banyak warga sekitar datang, namun tak berani mendekat. Informasi simpang siur, sampai pihak kepolisian dan datang bersamaan dengan orang dari Kelurahan Telihan.
Erni menuturkan, Pakde Tongkat memang sehari-hari menumpang tinggal di sela warung itu dengan memanfaatkan kursi panjang sebagai kasurnya, ia hidup dengan apa yang dia punya. Tidak mau membabani orang lain. "Saya sempat menawarkan tempat tinggal di belakang rumah saya tapi dia menolak," ungkapnya.
Kapolsek Bontang Barat, Iptu Abdul Khoiri menjelaskan dari hasil olah tempat kejadian perkara dari Tim Inafis Polres Bontang, tadi malam menyimpulkan tidak menumukan tanda-tanda kekerasan di tubuh jenazah dan uji usap Rapid juga menunjukan hasil negatif Covid-19. "Bukan Covid-19 dan tidak ada tanda kekerasan," katanya Kepada Korankaltim.com saat dihubungi via telepon, Minggu (19/9/2021) siang.
Penulis : Muhammad Ridwan
Editor : Bambang Irawan