Menurut juru bicara pensiunan PKT, Eko Sumardiyono, restrukturisasi yang direncanakan Pemerintah dan dijalankan manajemen AJS dengan skema memaksakan opsi/pilihan kepada nasabah secara sepihak, sangat merugikan , bentuk wanprestasi dan melawan hukum serta sikap yang semena-mena pihak manajemen AJS.
"Hari ini kami lakukan deklarasi penolakan, saat ini pemegang polis Jiwasraya menangis semua. Negara Indonesia masih kokoh berdiri, mampu untuk berikan penyertaan negara, hanya saja Presiden Jokowi tidak dengar dari pihak kita, seolah-olah restrukturisasi masih bagus," kata Eko.
Ia mengatakan, dengan restrukturisasi, semua pensiun akan rugi, karena akan dipotong 40 persen. "Presiden harus mendengar betapa mereka menangis, bayangkan uang pensiun tabungan kami untuk hari tua, ini mau digorok 40 persen. Padahal uang pensiun per bulan dah sedikit. Pensiunan PKT ada yang hanya terima Rp1 juta, kalau dipotong 40 persen, sisa Rp600 rubu saja untuk apa? Belum lagi pensiunan lainnya seperti guru-guru swasta yang dibawah Rp1 juta," kata Eko panjang lebar.
Kerugian Jiwasraya bukan tanggungjawab nasabah tapi pemerintah, karena itu Eko meminta jangan dibebankan ke nasabah. "Jangan menyelesaikan masalah malah menimbulkan masalah yang jauh lebih besar," tandasnya.
Sektiono, Ketua P3KT (Persatuan Pensiuanan Pupuk Kaltim) wilayah 1 Kaltim, menambahkan, saat ini jumlah pensiunan pupuk kaltim mencapai 1.603 nasabah, terdiri dari korporate 1.038, dan retail sebanyak 454 nasabah.
"Pengurus P3KT mendukung upaya-upaya yang dilakukan teman-teman tersebut yang sinergi dengan lobby-lobby yang telah, sedang dan akan dilakukan oleh Pengurus P3KT Pusat kepada Jiwasraya dan Instansi Pemerintah terkait," pungkasnya.[]
Penulis : Cholisoh
Editor : Rusdi