Peluru nyasar yang mengenai Stavanus itu diduga berasal dari senjata oknum polisi yang saat itu tengah membubarkan perjudian sabung ayam.
Salah seorang saksi mata, Anton Sailo (27) menuturkan sempat mendengar dua kali letusan senjata api. “Ada orang yang teriak ada polisi di depan. Pas pada bubar, polisi tiba dan terdengar suara tembakan. Saat bunyi tembakan kedua, korban sudah jatuh tersungkur ke tanah,” ungkap Anton saat ditemui di RS SOHC.
Dirinya juga melihat korban yang berada beberapa meter darinya langsung jatuh tersungkur tanah. Tak jauh, kurang lebih berjarak 10 merek dari korban juga tampak satu orang oknum polisi berdiri. “Saya melihat hanya satu polisi, kalau di luar saya enggak tahu. Ketika melihat banyak darah korban, saya langsung bantu korban antar ke mobil,” terang Anton.
Kakak kandung korban, Roni (42) menuturkan, saat ini korban sudah mendapat perawatan dari pihak rumah sakit dan akan menjalani operasi untuk mengeluarkan proyektil yang bersarang dari leher korban. “Dari dokter katanya mau di operasi, kita berharap tidak terjadi apa-apa atas kejadian peluru nyasar ini,” terang Roni.
Pihak keluarga juga menyayangkan kejadian adanya peluru nyasar tersebut. Rencananya pihak keluarga akan menempuh jalur hukum atas kejadian tersebut. “Kami tidak tahu sampai ada penembakan seperti itu, kami tidak tahu apakah prosedurnya juga seperti itu, ini juga kita kan hubungi pengacara, biar pengacara yang turun tangan,” katanya.
Sementara itu Kapolres Kutim AKBP Rino Eko, membenarkan adanya pembubaran pada arena judi sabung ayam tersebut. Ia mengatakan anggotanya sempat mengeluarkan tembakan peringatan saat penindakan di TKP. “Bukan ditembak, tapi ditembak ke atas. Saat dibubarkan tidak digubris, maka dilakukan tembakan peringatan,” terang Kapolres. (yul1116)