Saat inipun, Rahma dan anak-anak sedang menjalani rapid test, dan periksa kesehatan lengkap sekaligus rontgen. “Mau apa lagi, dijalani saja,” imbuhnya.
Ia sendiri mengaku, saat ini dalam kondisi sedang batuk namun mengakatkan kalua suaminya hasil positif setelah 14 hari karantina mandiri di rumah, itu bukan tertular dari Gowa, melainkan darinya karena Rahma merupakan seorang relawan yang aktif. “Bisa jadi suami saya tertular ketular dari saya bukan dari Gowa, sebab kondisi abi kan sehat-sehat saja dari Gowa tidak ada sakit,” ujarnya.
Rahma berharap hasil swab yang dikirim ke Surabaya negative. “Alhamdulillahj, badan saya sampai naik 9 kilo elama lockdown ini dan kalau saya keluar selalu cuci tangan. Sampai rumah ganti baju, dan cuci tapi namanya sudah takdir mau diapain, tapi saya enjoy saja,” paparnya.
Sebagai terapi pijat dan lulur, setelah 14 hari masa karantina mandiri, ia sudah kembali bekerja. “Kemarin saya berani pijat kirain sudah 14 hari aman, ternyata dapat kabar berita dari Samarinda, kaget juga saya, sudah 14 hari, alumni Gowa positif,” ujarnya, sambil mengaku ada tiga orang yang ia pijat setelah 14 hari masa karantina mandiri, tapi sebelum pijat ia terlebih dulu cuci tangan.
Menurutnya, jika nanti hasil rapid test dirinya dinyatakan positif, ia akan memberi tahu klien langganan pijatannya, agar mau di Rapid test juga.
Rahma sangat paham social distancing. Karena itu, sebagai relawan ODHA dan pasien kanker, ia tidak ingin teman-temannya ngedrop karena harus riwa-riwi ambil obat, karena itu ialah yang keluar masuk dan menolah rekan-rekannya. “Mendingan saya yang kena. Insha Allah antibody saya sehat karena tidak ada riwayat penyakit, Corona kan bisa sembuh,” jelasnya.
Setelah menunggu beberapa jam, haail Rapid test akhirnya keluar. Dan hasilnya negatif. "Alhamdulillah negatif hasilnya, anak anak juga. Tapi saya dan anak anak harus jalani isolasi, karena seminggu lagi akan di test lagi," ungkapnya. (*)
Penulis. Cholisoh
Editor: Aspian Nur