Pada Desember 2019 pemerintah kabupaten pernah berkunjung ke desa dengan harapan dapat memberikan solusi namun sampai saat ini belum direalisasikan. “Kami minta pemerintah segera mengambil tindakan dengan memperbaiki akses jalan kami,” tegasnya. Pernyataan sikap dengan menanam pohon pisang juga membentang tulisan “tolong kami”.
Akses jalan tersebut rusak tidak hanya pada saat musim penghujan namun musim panaspun sama hanya saja perbedaannya jika musim hujan lebih parah karena lengket dan licin. Trisdianto, warga desa setempat mengeluhkan jalan poros Desa Mata Air tersebut sebab kondisinya sangat memprihatinkan. “Kalau jalannya rusak parah pasti sangat berpengaruh terhadap ekonomi masyarakat setempat, baik untuk para petani, pedagang serta akses masyarakat. Kami selaku pemuda Desa Mata Air sangat prihatin melihat infrastruktur daerah kami yang selalu tertinggal. Daerah kami merupakan daerah pemukiman transmigrasi dan desa tertinggal,” ujarnya.
Menanggapi hal tersebut, Kepala dinas Pekerjaan Umum (PU) Kutim, Aswandini Eka Tirta akan segera menerjunkan tim untuk mengecek kondisi real di lapangan. “Kami akan kirim tim untuk cek di lapangan untuk memastikan apakah jalan tersebut betul-betul kondisinya sesuai yang tersebar luas di media sosial,” kata Eka.
Terpisah, Kasi jalan PU Kutim Erwinsyah mengaku pihaknya memang sudah mendapat laporan dari salah satu anggota DPRD Kutim tentang keresahan warga yang aksesnya jalannya rusak parah. Untuk itu dirinya dimandatkan oleh kepala dinas untuk berangkat mengecek secara langsung. “Kami akan cek dulu. Sebab jalan sudah masuk pengerjaan multiyear. Kalau bisa dilakukan perbaikan secepatnya akan kami kerjakan. Melihat kondisi juga karena saat sekarang ini belum ditetapkan besaran anggaran proyeksi APBD 2020,” kata Erwin. (*)
Penulis: */Zulhamri
Editor: Aspian Nur