Dari data terakhir yang berhasil dihimpun Dinkes Kutim, sejak 2015 lalu dari 145 orang yang di periksa 46 orang dinyatakan positif mengidap HIV/AIDS, tahun 2016 dari 2159 orang yang di periksa ditemukan sebanyak 39 orang positif HIV/AIDS. Selanjutnya, pada tahun 2017 dari 7907 orang yang diperiksa ditemukan ada 109 orang positif HIV AIDS, sedangkan pada tahun 2018 dari 6909 orang yang di periksa 71 orang positif HIV/AIDS sedangkan pada tahun 2019 ini, dari 4389 orang yang di periksa yang ditemukan 54 orang positif HIV/AIDS.
“Penyebaran HIV/AIDS berasal akibat pola dan gaya hidup. Biasanya pengidap penyakit ini yang sering jajan kepada wanita penghibur malam di lokalisasi. Bisa juga karena budaya seks bebas atau gonta ganti pasangan. Faktor lain pola perilaku seks yang menyimpang antar sesama jenis atau LGBT,” jelas Yusuf .
Dinas Kesehatan Kutim dan KPAD secara bertahap terus mensosialisasikan dan mengedukasikan kepada masyarakat terkait bahaya HIV/AIDS. “Intruksi dari Pemerintah pusat jumlah temuan kasus ditargetkan sebanyak 17.000 masyarakat Kutim yang terperiksa HIV/AIDS yang saat ini pihak Dinkes baru bisa melakukan pemeriksaan sekitar 4.000 orang warga Kutim. Targetnya pemeriksaan ini bisa selesai dalam satu semester terakhir di tahun ini,” paparnya.
Yusuf yang didampingi Kasi Pengelola Program HIV,Rika Oktora menuturkan sebagian pengidap penyakit HIV/AIDS penyuka sesama jenis yang diperkirakan berjumlah ratusan orang
Diakui Rika yang memprihatinkan keberadaan komunitas ini adalah tingginya angka pengidap HIV dan AIDS yakni sebanyak 30 orang. Angka ini terbilang cukup tinggi dan ini menjadi perhatian serius pihak Dinkes Kutim.
“Kasus HIV sebanyak 30 orang LGBT menjadi perhatian, namun akan terus kami pantau dan kami tangani. setelah dilakukan pendekatan secara kooperatif ke kaum LGBT tersebut. Dari 121 lelaki penyuka sesama jenis tersebut, mereka sudah memiliki komunitas tersendiri,” jelas Rika. (*)
Penulis: */ Zulhamri
Editor: Aspian Nur