Hal ini disampaikan oleh Senior manager Corporate Communication Badak LNG Busori, Minggu (30/6/2019)
Menurut Busori, perusahaan tidak lagi menyalurkan listrik secara gratis ke perumahan HOP.
Kebijakan ini, lanjutnya, sudah sesuai dengan UU Nomor 30 tahun 2009 tentang Ketenagalistrikan bahwa yang ditunjuk oleh negara adalah PLN.
“Salah satu fasilitas yang diberikan oleh perusahaan adalah membantu pengadaan aliran listrik dan air di area tersebut selama instansi yang berwenang seperti PLN dan PAM belum mulai beroperasi di daerah Bontang. Hal tersebut tercantum secara jelas pada Surat Keputusan Penyerahan Hak Memiliki Rumah Pribadi Rumah No. 132/YB002/Proper-VI/89 poin nomor 5 (lima) yang berbunyi “Pengadaan aliran listrik dan air akan diatur oleh Perusahaan (cq. Yayasan LNG Badak) sebelum Instansi Pemerintah yang lebih berwenang untuk itu (PLN & PAM) mulai beroperasi di daerah Bontang”,” jelas Busori.
Nah saat ini, lanjutnya, kondisi PLN sedang surplus, dan aliran PLN telah memasuki area Kota Bontang. Berdasarkan Surat PLN Kota Bontang nomor 0071/AGA.01.01/ABTG/2018 pada tanggal 12 September 2018 kepada PT Badak NGL terkait penawaran suplai energi listrik, maka aliran listrik HOP 1 sampai 6 telah mampu disuplai dari PLN.
“Relevan dengan isi Surat Keputusan Penyerahan Hak Memiliki Rumah Pribadi yang telah disampaikan sebelumnya bahwa setelah adanya suplai dari PLN maka Perusahaan berhak menghentikan pemberian fasilitas tersebut,” jelasnya.
Busori mengatakan, pemutusan listrik akan dilakukan. Sehingga bagi warga yang belum melakukan migrasi listrik ke PLN hendaknya mendaftarkan segera.
Dari data yang sudah menyetujui migrasi, dikatakan Busrori, baru 368 rumah. Sementara masih 419 rumah yang belum menyetujui pindah/migrasi. Total seluruh rumah di HOP 1 sampai 6 ada sebanyak 787 rumah.
“Listrik rencananya akan mati, karena listrik pabrik akan diputus, kecuali yang sudah dipasang PLN,” tandasnya.
Keuntungan dari migrasi ini, menurut Busori, gas yang selama ini digunakan untuk menyuplai listrik ke 787 rumah tersebut bisa dijual untuk penambahan devisa negara.
Penulis: */Olis
Editor: M.Huldi