Namun, saat ini, warga Tihi-Tihi terpaksa harus berhemat air lantaran ombak besar setinggi dua meter masih merajai laut. Keadaan tersebut bagi mereka tidak memungkinkan untuk mengambil air. berbahaya karena perahu yang berukuran kecil sangat rentan dihempas ombak.
Selain itu, hujan yang tak kunjung turun di bulan ini juga menjadi faktor krisisnya air di Tihi-Tihi.
“Saat ini sedang terjadi ombak besar, jadi tak bisa mencari air ke darat. Kalau sudah kemarau, begini lah kondisi kami kekurangan air,” Jelasnya.
Namun, meski ombak besar, beberapa warga juga nekat mengambil air untuk memenuhi kebutuhan hidup. Biasanya pengangkutan air bersih bisa dua hingga tiga kali dalam sehari, tergantung kebutuhan masing-masing.
Perjalanan dari Tihi-Tihi menuju Bontang memakan 30 menit menggunakan ketinting.”Kalau ada ombak tidak berani kami muat 10 jeriken. Paling cuma 4-6 aja,’’ terang Muslimin.
Setiap jeriken air dihargai Rp1.000. Dalam sebulan, warga bisa habiskan Rp 300-400 ribu untuk membeli air. Itu sudah termasuk biaya BBM untuk ketinting.
Ketua Komisi II DPRD Bontang, Ubaya Bengawan, menilai perlu dilakukan upaya untuk mengatasi hal ini. "Bontang kriris air, terlebih di pesisir, kita harus punya upaya untuk itu,” ujarnya.
Selain kampung Tihi-Tihi, kesulitan air bersih juga dirasakan warga di Kampung Selangan.
Penulis: */Yuli
Editor: Muh. Huldi