Menurut Darius, opara lulusan sarjana ini nampaknya cukup sulit mencari kerja di perkotaan, yang terkenal dengan banyaknya perusahaan tambang tersebut. Banyak putra dan putri daerah masih belum memiliki pekerjaan meskipun sudah mengantongi ijazah sarjana.
Menurut Darius, banyak faktor penyebab terjadinya pengangguran di Kutim, salah satunya adalah kurangnya Sumber Daya Manusia yang memiliki skill (keterampilan), gengsi yang tinggi dan lain-lainnya. Ditambah banyak perusahaan besar di Kutim yang mencari karyawan menjadi buruh kasar.
“Para sarjana masih memilih dan memilah pekerjaan, tidak sedikit bagi mereka yang ingin diposisi yang tinggi dan bagus, sementara perusahaan besar banyak membutuhkan buruh kasar,” jelas Darius.
Banyaknya sarjana masih memilih dan memilah pekerjaan membuat Darius cukup kesulitan untuk memperjuangkan putra dan putri daerah agar pengangguran di Kutim berkurang. Terlebih tidak ada undangan-undang yang mengatur larangan untuk rekrut karyawan dari luar.
“Setiap perusahaan, atau investor yang ada mencari pelamar dengan posisi tinggi mereka menginginkan miimal punya pengalaman, sementara masih banyak Sarjana yang baru lulus namun belum pernah bekerja sama sekali,” tuturnya.
Lebih lanjut Darius mengatakan, banyak perusahaan membuka lowongan kerja, namun sayangnya pencari kerja di Kutim tidak banyak peminat.
“ Tempo hari banyak perusahaan tambang dan kontaktor membuka lapangan pekerjaan, namun peminat dari kita kurang, entah untuk bekerja atau malas untuk terikat, saya tidak tau,” jelas Darius.
Padahal, lanjut Darius, di Kutim sangat banyak peluang kerja terutama perusaan sawit, karena banyaknya perusahaan tidak mendapat tenaga kerja, sehingga mereka mengambil karyawan dari luar daerah.
“Jadi efek dari minimnya peminat, perusahaan akhirnya mempekerjakan orang luar, inilah yang akan kami evaluasi kembali, pak bupati pun juga sudah berpesan agar putra dan putri daerah di utamakan,” tutup Darius. (yul)