Ketua panitia penyelenggara lomba penyuluhan PKDRT Astri Siswanto Mukti mengatakan, kegiatan ini sebenarnya selalu diagendakan setiap tahunnya di dalam program kerja GOW Bontang. Namun baru kali ini baru bisa terlaksana.
“Alhamdulillah kegiatan penyuluhan penghapusan KDRT ini bisa terselenggara dan pesertanya lumayan banyak, yakni ada 10 peserta mewakili kelurahan masing-masing,” kata istri Kapolres Bontang AKBP Siswanto Mukti ini.
Astri melihat, masih banyak para wanita yang takut melaporkan apabila mendapatkan KDRT, termasuk anak-anak. Karena itulah, diharapkan dengan adanya lomba ini, maka warga semakin paham dan mengerti tentang hukum KDRT dan mereka jadi tahu akan kemana apabila mendapati kasus KDRT.
“Minimnya laporan dan banyaknya kasus KDRT ini akibat dari minimnya ketidaktahuan hukum mereka. Masih banyak warga yang tidak paham dan tidak mengerti bahwa KDRT itu bisa dihukum. Karena itulah, kami sengaja menggelar lomba penyuluhan KDRT ini, dan tujuannya agar warga berani melaporkan. Dan kami juga mau tahu seberapa besar warga sadar akan hukum,” kata Astri.
Kenapa digelar lomba penyuluhan PKDRT tingkat kelurahan? Menurut Astri, agar jangkauannya bisa langsung menyentuh ke masyarakat. “Dengan perwakilan dari kelurahan ini, maka nantinya kelurahan nantinya bisa langsung mensosialisasikan ke masyarakat,” jelasnya.
Pemenang lomba ini, lanjutnya, selain mendapatkan hadiah berupa uang pembinaan dan piagam, materinya juga akan digunakan untuk penyuluhan-penyuluhan ke masyarakat.
Sementara itu, Asisten 1 Pemerintah Kota Bontang M Bahri mengapreasi kegiatan lomba penyuluhan PKDRT yang digelar GOW Bontang. Menurutnya, kekerasan terhadap perempuan dan anak selama ini jadi persoalan yang cukup menyita waktu dan tenaga.
Hal ini dibuktikan masih banyaknya laporan yang ditangani beberapa lembaga pemberdayaan perempuan dan anak. “Kami sangat berterima kasih diadakan lomba ini yang dilaksanakan dalam rangka peringatan hari ibu ke -90, dan semoga masalah KDRT bisa dikikis bahkan hilang,” ujarnya.
Pada kesempatan itu, Bahri juga menyampaikan jika Wali Kota Bontang Neni Moerniaeni sangat peduli dan konsen sekali terhadap kasus-kasus KDRT. “Kenapa saya bicara seperti ini? Karena saya melihat sendiri, waktu di Singkawang, Ibu Walikota begitu konsennya terhadap masalah KDRT, beliau sampai menegur wakil bupati Singkawang, hanya gara-gara menyanyikan lagu “Madu 3”, dan beliau memprotes kalau bisa jangan dinyanyikan lagu itu,” kata Bahri. (cil)