Pagi sekitar pukul 07.30 WITA hingga 10.30 WITA, Neni Moerniaeni melihat kondisi warga Guntung, yang menjadi korban banjir hingga setinggi pinggang dewasa. Orang nomor satu di Kota Bontang itu didampingi Pj Sekkot Agus Amir, Kadis PU Tavip Nugraha, Kadis Kesehatan dr Bahauddin dan Kadinsos Safa Muha, Menggunakan kapal sekoci dari BPBD Bontang, Neni membagi-bagikan nasi bungkus ke warga Guntung yang rumahnya terendam banjir.
Sekitar 602 KK dari 18 RT terendam banjir mulai pukul 03.00 WITA dinihari tadi. Air mulai naik sekitar pukul 03.00 WITA subuh dan semakin tinggi hingga pinggul dewasa. "Waktu hujan belum banjir, usai hujan pas subuh tadi air mulai naik. Ini banjir paling tinggi, sudah hampir 10 tahun baru ini banjir besar," kata Agus, warga RT.11.
Hal yang sama juga diakui Veranika. Menurutnya, banjir kali ini yang paling parah, karena itu sekolah Paud SPS Anyelir yang memiliki 45 anak diliburkan. "Kalau akhir tahun ya banjir tapi biasanya nggak parah gini, paling cuma semata kaki," sebutnya.
Mus Muliadi RT 17 pun membenarkan jika banjirnya kali ini paling parah. "Saya sudah 29 tahun tinggal disini. Sejak 10 tahun nggak pernah banjir besar. Nah sekarang ini banjir terbesar," ujarnya.
Setelah melihat kondisi warga dan lingkungan di Guntung, Neni mengajak warga untuk hidup bersih tidak membuang sampah sembarangan. Selain itu untuk atasi banjir, jangka pendek maka akan dilakukan kelanjutan pemasangan turap, selain itu pengangkatan/pengerukan sedimen di drainase/parit. "Untuk jangka panjang, dari usulan kelurahan Guntung, akan dibuat sodetan dan pelebaran drainase," ujar Neni.
Neni juga melihat banjir yang terjadi karena banyaknya hutan yang diubah fungsi. Sehingga air meluap tidak langsung terserap ke dalam tanah. (*)
Penulis. Cholisoh
Editor: Aspian Nur