INALUM Kembangkan Sayap ke Bulungan
2 menit baca549 kali dibaca

BONTANG – Holding Industri Pertambangan (HIP) PT INALUM (Persero) mendorong terwujudnya hilirisasi produk sektor pertambangan dengan melakukan kerjasama berbagai pihak untuk merealisasikan proyek-proyek besar bernilai US$10 miliar (Rp150 triliun).
Beberapa kerjasama dengan BUMN dan pihak swasta pun telah ditandatangani dan siap berjalan. Sejumlah proyek hilirisasi yang tengah dan sudah bergulir diantaranya di segmen aluminium, bauksit dan batubara.
“Mendorong hilirisasi produk tambang merupakan salah satu dari tiga mandat Holding Industri Pertambangan. Beberapa proyek besar ini merupakan langkah nyata kami dalam mendukung terjadinya nilai tambah produk di sektor tambang dan upaya mendukung penghematan devisa negara,” ujar Budi G. Sadikin, Direktur Utama INALUM, Minggu, 28 Oktober 2018.
INALUM saat ini sedang dalam proses mengembangkan sayap ke Kabupaten Bulungan, Kaltara, untuk mendirikan pabrik aluminium primer dengan kapasitas 500 kiloton per annum, beserta pembangkit listrik tenaga air dengan memanfaatkan sungai Kayan. Menueut Budi, dengan nilai proyek sebesar US$6 miliar, ekspansi ke provinsi ini diharapkan dapat dimulai di tahun depan.
INALUM bersama anggota HIP PT ANTAM Tbk dan produsen alumina terbesar kedua di dunia Aluminum Corporation of China Ltd (CHALCO) akan bekerja sama membangun pabrik pemurnian untuk memproses bauksit menjadi alumina, yang merupakan bahan baku utama membuat aluminium ingot. “INALUM merupakan produsen aluminium ingot satu-satunya di Indonesia,” ujarnya.
Konstruksi proyek yang berlokasi di Kabupaten Mempawah, Kalbar, ini dilakukan dalam 2 tahap dengan total kapasitas produksi 2 juta metrik ton alumina. Investasi untuk membangun pabrik tahap 1 ini diperkirakan US$ 850 juta dan di targetkan produksi pada 2021.
Anggota HIP lainnya, PT Bukit Asam Tbk, akan berkolaborasi dengan PT Pertamina (Persero), PT Pupuk Indonesia (Persero), dan PT Chandra Asri Petrochemical Tbk untuk mengkonversi batubara muda menjadi syngas yang merupakan bahan baku untuk diproses lebih lanjut menjadi Dimethyl Ether (DME) sebagai bahan bakar, urea sebagai pupuk, dan polypropylene sebagai bahan baku plastik.
Pabrik pengolahan gasifikasi batubara direncanakan beroperasi pada November 2022. Diharapkan dapat memenuhi kebutuhan pasar 500 ribu per tahun, 400 ribu ton DME per tahun dan 450 ribu ton Polypropylene per tahun. Dengan target sebesar itu, diperkirakan kebutuhan batubara sebagai bahan baku akan sebesar 9 juta ton per tahun; termasuk untuk mendukung kebutuhan batubara bagi pembangkit listriknya. Nilai keseluruhan proyek diperkirakan lebih dari US$3 miliar. (cil)










