Meski masih terus berjalan, sambungnya, namun cakupannya masih kurang. Berdasar data dari Dinkes, imunisasi ini baru berjalan 75 persen terhadap anak berusia 9 bulan-15 tahun.
“Sekarang masih 75 persen saja, dengan melibatkan Dinkes, MUI dan Menteri Agama, sekarang pun kami masih sosialisasi untuk imunisasi,” jelasnya.
Ada sejumlah sekolah yang masih menolak untuk imunisasi, dan tentu saja hal itu menjadi target Dinkes dengan harapan mencapai 95 persen imunisasi MR terealisasi, agar Kutim terbebas dari campak dan rubella.
“Ada beberapa sekolah yang masih menolak ikut imunisasi, kalau belum mencapai 95 persen MR masih bisa menjadi ancaman bagi kutim,” ujarnya.
Bahrani menuturkan, MR itu merupakan penyakit yang bahaya sehingga imunisasi tersebut sangat penting untuk memutus mata rantai kasus measles dan rubella. Measles sendiri, sambungnya, menyebabkan kematian dan rubella jika menular kepada ibu hamil, maka bisa terjadi keguguran, kecacatan permanen pada bayi, yang disebut cognitive rubella syndrom (CRS).
Menurutnya,Indonesia saat ini darurat CRS, karena cukup banyak yang terkena kasus tersebut. “MR ini berbahaya dan harus berobat ke lima poli sekaligus, MR sangat bahaya bagi ibu hamil karena jika sudah terkena tidak akan sebanding dengan biaya berobatnya,” tutur Bahrani
Bahrani juga membeberkan ada beberapa daerah di Kutim yang telah mencakup 95 persen mengikuti vaksin MR, sehingga ia mengharapkan Sangatta dan daerah lainnya juga dapat mencapai 95 persen tinggal kepeduliannya terhadap MR.
“(Kecamatan) Wahau, Batu Ampar, Long Mesangat itu sudah bagus, 95 persen, semoga daerah lain bisa mengikuti,” pungkasnya. (yul)