Untuk memastikannya lagi, pihak BLH Kutim mengulangi kembali tes laboratorium pada keesokan harinya, yakni pada Rabu (12/9). Hanya saja, kali ini sampel yang diambil di 29 titik, mulai dari hulu hingga hilir sungai. Dari 29 titik, terdapat beberapa parameter yang tidak memenuhi baku mutu.
“Untuk parameter DO paling rendah ada di jembatan yang dilaporkan warga yakni Jl Atletik 9, disana DOnya berkisar 0.15, dan semua titik sample DO nya sangat rendah. Hal ini, bisa berasal dari sampah limbah domestic dan pabrik tahu dan bengkel, juga cucian mobil yang langsung membuang ke sungai,” timpal Kasi Pengendalian Pencemaran Lingkungan, Hikmatun Meida.
Sementara untuk parameter lainnya di 29 titik tersebut, seperti amoniak, besi, nitrit, mangan, klorin, kondisinya juga sama, yakni hampir semua tidak sesuai baku mutu. “Dari hasil yang kami dapat, kami menyarankan kepada warga agar membuat bak tangki septik. Selain itu, kami akan lakukan pembinaan untuk tahap pertama,” ujar Hikmatun.
Khusus untuk pemilik pabrik tahu dan tempe, sambung Sri, mereka sudah memanggil para pemilik pabrik, untuk menggunakan air bersih dalam pengolahannya. Dan tidak langsung membuang limbah ke sungai. “Kami harap 2019, sungai Bontang sudah ada ikan hias yang hidup disana,” pungkasnya.
Terpisah, Kepala BLH Bontang Agus Amir menegaskan pihaknya langsung menerjunkan tim ketika ada laporan masyarakat yang memposting kondisi sungai Bontang yang hitam dan bau di media sosial.
”Pada saat ada laporan masyarakat terhadap kondisi sungai Bontang, langsung kita respon, malam harinya kita survey dan paginya kita ambil sample TKP pertama,” kata Agus Amir. Dilanjutkannya, panjang sungai Bontang mencapai 14 km. “Kita petakan kemudian coba telusuri dari setiap segmen kita coba lakukan pemeriksaan dan tindaklanjutnya,” jelasnya.
Untuk itu, akan ada program 2019 restorasi kali bersih dan laut bersih. Selain itu normalisasi dengan alat berat sepanjang kemampuan alat berat bisa masuk kepinggiran bantaran sungai dan adakan sosialisasi ke warga melalui komunitas sepeda, yang mengajak warga bantaran sungai untuk menjaga sungai. (cil)