Neni optimis kedepannya tidak akan ada lagi pembuangan limbah langsung ke sungai. Dan untuk mewujudkannya, Neni menyampaikan memang harus diedukasi masyarakatnya. “Ini katanya ada bengkel motor yang menurut informasi pembuangan oli-olinya itu langsung ke sungai,” ujarnya.
Seharusnya, lanjut Neni, setiap bengkel itu memiliki bak khusus untuk oli yang mana berfungsi untuk mengelola limbahnya. Tidak dibuang langsung ke sungai seperti selama ini. Selain itu, di sepanjang bantaran sungai juga terdapat beberapa pabrik tahu.
“Maka perlu mengedukasi masyarakat, karena tak mungkin kami menutup usaha mereka, hanya kami ingin bagaimana usahanya tetap jalan, mendapat ekonomi yang baik dan lingkungan juga harus baik,” ungkapnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Bontang Agus Amir mengatakan, kandungan logam air dan sedimen Sungai Bontang dikirim ke laboratorium di luar Bontang. DLH Bontang pun kembali mengambil sampel air sungai untuk mengecek kandungan bakteri yang ada di dalamnya.
“Kami hanya bisa mengecek kandungan logam, PH, dan lainnya, kalau bakteri juga belum bisa kami cek, mungkin besok (hari ini, Red) hasilnya keluar,” terang dia.
Seperti diberitakan sebelumnya, air Sungai Bontrang yang berada di Kelurahan Api-api berubah menjadi warna hitam setiap pagi hari. Selain warnanya yang berubah, terdapat juga bau tak sedap dari air sungai tersebut. Beberapa warga di sekitar bantaran sungai merasa terganggu dengan bau sungai yang dihasilkan.
Oleh karenanya, DLH Bontang langsung mengambil sampel air sungai di empat titik. Namun demikian, hasilnya baru akan diketahui pada Senin (1/10) hari ini. Selain itu, DLH Bontang juga mengecek kandungan sedimen sungai tersebut. “Saat ini sudah kami kirim ke laboratorium di Bogor. Untuk hasilnya jika sudah keluar akan kami publikasikan,” ujarnya. “Saat timnya mengambil sample air, ternyata airnya tidak terlihat hitam. Sementara jika dilihat di sungai tampak menghitam. Karena itulah perlu pemeriksaan endapan yang ada di bawah air sungai juga. (cil)