Kesulitan mendapat bahan baku dirasakannya. Tubuhnya yang renta diusia senja sangat tak mungkin bagi Saenab memanjat pohonnya yang sangat tinggi hanya untuk mendapatkan daun kelapa.
"Kalau tidak ada yang panjat pohon kelapa, saya beli saja sama orang kebun, dua ribu rupiah per pelepah pohon yang masih berdaun, lalu saya bersihkan," tuturnya.
Di usianya yang sudah lanjut Saenab tak bisa lagi berkendara. Berjalan kaki jadi modal andalannya. Semua ia lakoni dengan sabar. Setiap hari ia harus berjalan dengan jarak yang terbilang cukup jauh dari pemukiman yang banyak penduduk.
"Saya tinggal di lingkungan yang masih sedikit orangnya, jauh dari Sangkima, kalau mau jualan di sana harus jalan kaki sampai tujuh kilo. Kalau ke Sangatta lebih 20 km," ungkapnya saat disambangi di kediamannya.
Perempuan yang laihir pada 2 mei 1940 itu merasa fisiknya semakin melemah. Ia tidak memiliki kekuatan lebih seperti dahulu saat menganyam piring. Baginya, dahulu Saenab merasa mampu membuat satu lusin setiap harinya.
"Sekarang sudah tidak sekuat dulu, paling hanya lima perhari.
Karena pegal punggung dan pinggang," paparnya.
Tidak hanya piring, diapun mengikat sejumlah lidi dan dijajakannya hanya dengan Rp5000. Pasalnya jika hanya mengandalkan anyaman piring, maka kemungkinan lakunya sangat tipis.
"Kalau sapu ada saja kadang sehari. Karena kalau piring paling laku hanya lebaran, kalau hari biasa sepi. Yang jelas jualan saya kadang laku kadang tidak. Saya jajakan dengan menyusuri pantai teluk lombok," jelasnya.
Ia menceritakan, sebelumnya sempat menetap di dusun sebelah. Hanya saja rumahnya habis terbakar, tidak menyisakan apapun. Hanya radio kesayangannya saja hingga kini yang masih setia menghiburnya.
"Dulunya rumah saya terbakar, terus dibuatkan oleh Lanal, akhirnya pindah kesini. Ditemani sama radio sajalah," katanya.
Baginya di mana pun ia menetap, itu bukan perkara. Hanya atas dan alas saja yang ia butuhkan untuk istirahat dari rutinitasnya. Di usianya yang sangat tua, ia mengaku masih sanggup bekerja. Baginya sangat pantang untuk mengemis.
"Hanya ini yang saya bisa kerjakan. Saya juga jarang sekali dapat bantuan. Tapi tak apa, yang penting tidak menyusahkan orang lain. Makan atau tidak, itu biasa. Bagi saya yang penting perbanyak minum air, itu sudah kenyang," ungkapnya.
Penulis : Yuli
Editor: Firman Hidayat