Dewan Penasehat LDII Bontang Juwarno mengatakan, secara logika tidak mungkin penjaga masjid selalu membersihkam atau mengepel masjid jika ada orang salat didalamnya, khususnya yang bukan dari kelompok LDII.
“Nggak mungkin jika kami ngepel terus, bisa habis tenaga,” kata Juwarno, saat sowan di Kantor Kejari Bontang, bersama pengurus LDII Bontang lainnya.
Meskipun ada anggotanya yang masih seperti itu, lanjutnya, karena dia masih mengikuti aturan lama dan pasti anggota tersebut yang sudah tua. Atau jika memang kebetulan mereka mengepel lantai sehabis orang salat karena memang sedang jadwalnya ngepel lantai.
“Beberapa masjid kami memang memiliki jadwal ngepel 2 kali sehari yakni pagi dan sore hari, itu pun untuk menjaga kebersihan dan kesucian masjid,” ujarnya.
Dilanjutkan Juwarno, masjid mereka bangun sendiri itu memang bisa digunakan untuk umum. Sementara isu yang berkembang di masyarakat merupakan beban sejarah yang dahulu membina islam jamaah. Namun demikian, LDII saat ini sudah lebih bermasyarakat dan dapat diterima oleh masyarakat. Bahkan, mereka bisa bergotong-royong dengan masyarakat lainnya dan berbaur. Makanya, mereka melakukan sowan ke Kejari karena ada beberapa hal yang perlu dikomunikasikan.
“Kami ini lembaga dakwah yang membawa beban sejarah, karena pernah membina islam jamaah. Dari sana, LDII belum terlalu legal dan masih dianggap sesuatu yang nyeleneh karena dianggap terlalu memegang prinsip sendiri,” tuturnya.
Juwarno sendiri mengaku merupakan siswa NU. Juwarno berpendapat organisasi itu sama saja prinsipnya, yakni untuk kemaslahan umat. Tetapi, kemudian timbul permasalahan kecil yang menjadi panjang.
“Prinsip kami tidak mengganggu orang dan komunitas, Alhamdulillah mulai bisa diterima oleh masyarakat,” ungkapnya. “Kami dakwah, ngajak orang beribadah, tetapi kalau bernegara tetap berpedoman pada Pancasila, karena NKRI harga mati,” sambungnya.
Dalam kesempatannya, Kajari Bontang Agus Kurniawan meminta yang sudah baik mohon dijaga. Jangan sampai hubungan sama Allah atau habluminallah bertentangan dengan hubungan sama manusia atau habluminannas. Apalagi, saat ini situasi menjelang Pilres jangan sampai ada isu SARA. Karena tujuan semua adalah bersatu untuk berkarya demi Indonesia.
Selama ini, kegiatan yang dilaksanakan oleh LDII terus dipantau dan dimonitor, yang berbahaya saat ini adalah agama campur politik, karena nanti bisa diprovokasi. “Saya berharap LDII bisa menjaga kesatuan dan bangsa, hal yang positif dipertahankan,” pintanya.
Mengenai sumber pemasukan atau anggaran, Kajari cukup salut kepada LDII, karena mereka menggerakkan sumber daya internal untuk melancarkan roda organisasi. Oleh karena itu, Kajari meminta agar pola dakwah yang menyejukkan hati tetap dijaga dan dipertahankan. Jangan sampai ada pemahaman radikal, dan jangan sampai NKRI ini goyah. “Saya berharap kontribusi yang positif ini bisa dilihat oleh pemerintah daerah juga,” ujar Agus Kurniawan.
Kajari Bontang juga menampung masukan dari LDII yang membutuhkan kantor sekretariat untuk disampaikan aspirasinya ke pemangku kepentingan. Karena LDII Bontang sudah memiliki lahan sendiri. “Saya amanahkan untuk bisa membina umat agar tidak terjerumus paham radikalisme,” pungkasnya. (cil)