Begitu tiba di Bandara PT Badak NGL, rombongan dijemput Wakil Wali (Wawali) Bontang Basri Rase dan jajaran Forkopimda. Mereka pun langsung menuju proyek penurapan masjid Al Jariyah di Loktuan. Kemudian rombongan beralih ke proyek pemasangan paving block di gereja GKII di Telihan. Setelah meninjau kedua proyek tersebut rombongan langsung meninjau proyek penurapan Sungai Bontang, Gang Atletik 5, Kelurahan Api-Api.
Usai memantau langsung seluruh proyek TMMD, Johny langsung menggelar pengarahan yang dihadiri beberapa kelompok organisasi masyarakat, anak-anak sekolah dan juga hadir beberapa SKPD Pemkot Bontang.
Namun sebelumnya, Johny menyempatkan berbincang-bincang dengan warga yang rumahnya digunakan anggota TNI untuk menginap sementara selama proses TMMD dilaksanakan, Supardi dan Sugiyanti.
Johny menanyakan apakah warga yang ditempati oleh tentara diberi uang makan? Supardi dan Sugiyanti mengatakan, jika ia diberi uang makan sebesar Rp45 ribu/tentara. Yang tinggal di rumah ada 4 orang anggota sehingga jumlah uang yang mereka terima Rp180 ribu per harinya.
Sugiyanti pun mengatakan, uang tersebut ia jadikan masakan setiap hari yang bisa dimakan untuk 4 tentara dan juga keluarga mereka. Pada kesempatan itu, Johny pun ingin melihat langsung menu yang dimasak ibu Sugiyanti dan tanpa ragu mencicipinya, sambil bersenda gurau.
Pada pengarahan, Johny menjelaskan kalau sejak 2017 TMMD dilaksanakan 3 kali setahun, dimana pada tahun 2016 kegiatan tersebut masih digelar 2 kali saja dalam setahun. “Saat ini ada 50 satuan tugas di seluruh Indonesia. Saya tadi makan langsung apa yang dimasakkan prajurit, saya gembira bagaimana kemanunggalan TNI dengan rakyat,” ujarnya.
dilanjutkannya, anggaran TMMD dari pemerintah daerah dan untuk sasaran di Kodim 0908/BTG, Pemerintah Kota Bontang mengalokasi anggaran Rp1.977.000.000,-. “Saya katakan ke pak wawali, kalau pemkot beri tentara uang 2 miliar, nanti akan dikembalikan pada saat ditutup kegiatan ini. Dimana nilainya minimal bisa 2 kali lipat apabila dikerjakan pemborong. Jadi jika yang ngerjakan pemborong nilainya bisa sampai Rp4 miliar. Nah disini perlu implementasikan Pancasila gotong royong,” kata Johny.
Ia pun mengaku bahwa TNI membantu kesulitan masyarakat sekeliling. “Kalau ada tentara yang nakal, lapor, kita akan selesaikan secara adat! Tentara itu harus bisa bagaimana menjadi kepercayaan rakyat untuk melindungi,” kata Johny.
Sementara itu, Johny juga menanggapi pertanyaan warga, yang meminta agar TMMD dilanjut untuk penurapan sungai yang di seberang. Menurut warga sungai itu juga banyak buayanya. Namun dijelaskan Johny, TMMD itu hanya dilakukan 3 kali dalam setahun, dan proses pelaksanaannyapun digilir di seluruh Kodim yang ada di Kaltim. “Kemungkinan Bontang bisa dapat TMMD, dua tahun ke depan lagi, jika di Kaltim ini ada 9 Kodim,” ujarnya.
Namun, lanjut Johny, tidak perlu menunggu pelaksanaan TMMD, apabila warga meminta TNI, bisa diupayakan dengan program Karya Bhakti. Dan juga harus kordinasi dengan Pemerintah setempat. “Jika pemerintah anggarannya sedikit, bisa meminta ke TNI dengan program Karya Bhakti, tapi masyarakat pun juga harus ikut serta gotong royong,” pungkasnya. (cil)