Uniknya, puasa dalam ritual ini dilakukan siang dan malam, orang yang berpuasa tidak diperboleh untuk makan garam, merokok dan minum air putih. Bahkan mandi maupun cuci muka. Hanya boleh makan nasi putih. Mereka yang melakukan puasa, tidak boleh mengonsumsi apa yang dilarang selama tiga hari.
Mereka yang telah melewati masa berpuasa di rumah adat, kemudian kembali ke Desa Bea Nehas yang menjadi tempat pusat kegiatan dengan menggunakan rakit. Mereka pun disambut di Sungai Telen oleh keluarga mereka. Sesampai diDesa Bea Nehas menuju masing-masing tekeak (bambu yang didirikan di lapangan dihiasi telur dan anak ayam yang sudah disembelih), untuk menjalani ritual Mengbong, yakni ritual menuju arah pendewasaan.
Ditandai dengan melempar ayam jago ke udara oleh para pemuda peserta ritual Nemlen. Ayam jago yang dilempar harus terbang dan berkokok sebagai pertanda kemengan dan pertanda, si peserta sudah melalui prosesi demi prosesi Nemlen dengan baik.
Dari sungai, mereka dibawa ke lapangan Desa Bea Nehas menuju masing-masing tekeak (bambu yang didirikan di lapangan dihiasi telur dan anak ayam yang sudah disembelih), untuk menjalani ritual Mengbong, yakni ritual menuju arah pendewasaan. Ditandai dengan melempar ayam jago ke udara oleh para pemuda peserta ritual Nemlen. Ayam jago yang dilempar harus terbang dan berkokok sebagai pertanda kemengan dan pertanda, si peserta sudah melalui prosesi demi prosesi Nemlen dengan baik.
Ledjie Tot, Ketua panitia sekaligus Wakil Ketua Lembaga Adat Besar Wehea menceritakan, dahulu kala anak-anak muda khususnya laki-laki yang beranjak remaja, baru bisa menikah jika sudah melewati ritual Nemlen.Tapi, pada dasarnya Nemlen diikuti seluruh pemuda, baik yang beranjak remaja sebagai pemula, maupun dewasa. " Ritual ini baru digelar kembali setelah 15 tahun berlalu. Nantinya semua pemuda akan mengikutinya baik remaja maupun yang sudah menikah namun belum pernah ikut ritual,"ujar Ledjie Tot.
Penulis : Yuli
Editor: Aspian Nur