Tentu saja Tumpukan sampah tersebut menyebabkan bau dan merusak pemandangan kota. Bupati Ismunandar menakutkan hal semacam ini.
“Pas libur bersama, jangan sampai ikuti libur juga yang mengangkut sampah, padahal masyarakat tetap membuang sampah, sehingga sepanjang jalan terlihat tumpukan-tumpukan sampah, belum lagi sampah yang tergeletak dijalan biasanya dihambur oleh binatang liar, sehingga tambah terlihat kotor,” tambahnya.
Mengenai volume sampah dalam Bulan bulan ramadan, ada peningkatan jika dibandingkan dengan hari-hari biasa. “Hingga tanggal 23 Mei total retase sebanyak 118 Ret atau 928 meter kubik yang diangkut ke TPA,” kata Kepala UPTD Sampah, Siti Zahra.
Peningkatan volume ini merupakan hal yang biasa. Bahkan sudah menjadi budaya. Hal ini terjadi lantaran konsumsi masyarakat lebih tinggi ketimbang hari biasa.
“Seperti sampah kulit kelapa, keresek atau mika kue dan sisa-sisa makanan yang terbuang. Ini yang paling mendominasi,” katanya.
Terpisah, Kepala Bidang Konservasi SDA Dinas Lingkungan Hidup Kutim, Budi Susanto menjelaskan, pengambilan sampah setiap harinya dilakukan empat kali dimulai pada jam enam pagi, namun ketika libur pengambilan sampah dimulai agak siang, dan hanya dilakukan kurang dari empat kali. Sedangkan untuk pegawai kebersihan termasuk yang mengambi sampah menurutnya berjulah seratus dua puluh delapan orang.
“Untuk pengambilan sampah sudah rutin di lakukan selama empat kali sehari,” tandasnya
Jika tidak dilakukan, maka sampah akan terus menumpuk, terlebih di area pasar Sangatta Selatan, dimana banyak sampah plastik dan kulit kelapa yang berserakan.
Sampah tetap terangkat dan sesuai dengan waktunya. Kami juga meminta kepada warga untuk mengikuti aturan. Yakni, buang sampah mulai sore pukul 18.00 wita hingga 06.00 wita,” katanya. (yul1116)