Seperti tahun-tahun sebelumnya, lanjutnya, siswa pesisir yang berada jauh dari daratan akan di drop ke darat semua dan dimasukkan di asrama. Kebijakan ini didukung melalui program comdev boarding kerjasama dengan PT Badak NGL, PT KPI dan PT KMI.
“Program ini sudah berjalan sejak 4 tahun lalu. Inovasi program ini juga mendapat Best Practice Kemendagri di tahun 2017. Asrama yang diberi nama Asrama Laskar Pesisir ini terdiri dari 2 rumah. Sehingga siswa dan siswi dipisahkan tempatnya. Di asrama itu juga para guru datang bergantian untuk memberikan pembelajaran sebelum USBN berlangsung,” jelas Badi.
Untuk siswa pesisir sendiri, lanjutnya, tercatat ada sebanyak 27 orang. Mereka berasal dari SDN 013, 014, 016, 011 Bontang Utara, serta SD di wilayah Teluk Kadere, Bontang Selatan yakni Pulau Gusung, Pulau Tihi-Tihi, Lok Tunggul serta Pulau Selangan.
“Mereka akan mulai masuk asrama pada tanggal 2 Mei (hari ini, Red.). Sehingga para siswa pesisir yang sudah terdaftar sebagai peserta USBN bisa fokus mempersiapkan diri untuk pelaksanaan USBN,” ujar Badi.
Untuk lokasi USBN, semua siswa pesisir tersebut akan disatukan di SD Vidatra. Sebab lokasi SD Vidatra yang paling dekat dengan asrama. “Karena dekat dengan asrama, maka mereka bisa berjalan kaki menuju SD Vidatra,” ujar Badi.
Penempatan USBN di SD Vidatra juga atas hasil pertimbangan beberapa hal. Pasalnya, siswa siswi pesisir sebelumnya sempat ditempatkan di sekolah lainnya. Tetapi karena tidak terbiasa dengan kendaraan darat, mereka banyak yang mengalami pusing hingga muntah.
“Dulu ada yang kami tempatkan di SDN 006 Bontang Utara, ada juga yang di Bontang Lestari, tetapi mereka kesulitan saat naik kendaraan darat. Makanya tahun ini semua ditempatkan di Vidatra, dan ini juga untuk memudahkannya,” ujarnya. (cil)