Untuk telur ayam saja mengalami kenaikan sekitar Rp 12 ribu per piringnya. Dimana sebelumnya harga telur ayam sepiringnya seharga Rp 36 ribu. Namun ternyata sudah naik menjadi Rp 48 ribu. “Kita cek ada kelangkaan atau tidak? Apakah ada kenaikan harga atau tetap. Hasilnya. Ada kenaikan tiga jenis komoditi, ayam ras dan telur yang kenaikannya lumayan,” kata Kasat Reskrim Kota Bontang Iptu Rihard Nexson.
Hal yang sama juga berlaku pada harga ayam ras. Untuk satu ekornya saja, pembeli harus merogoh kocek sebesar Rp 55 ribu. Padahal sebelumnya dijual dengan sebesar Rp 45 ribu. Ada kenaikan sebesar Rp 5 ribu perekornya.
“Daging sapi juga naik 5 ribu, dimana sebelumnya se-kilo 130 ribu, kini 135 ribu,” ungkap Rihard. “Sedangkan untuk sembako yang lainnya masih normal, seperti gula, tepung, bawang merah dan bawang putih,” sambungnya, sambil menyebutkan 16 titik yang sidak seperti Pasar Rawa Indah, Pasar Telihan, Pasar Loktuan, serta distributor Gunung Mas, Toko Samaria dan lainnya.
Dalam waktu dekat, tim akan kembali mengingatkan pasar terhadap Harga Eceran Tertinggi (HET). “Tindakan kita persuasif dulu kelapangan, supaya jangan ada spekulan yang ingin dipermainkan oleh mereka. Kita akan ingatkan untuk HET,” jelasnnya.
Menurut Rihard, pengecekan harga akan dilakukan rutin. “Tim satgas harga ini tetap berjalan, khususnya antisipasi jelang natal dan akhir tahun, disini biasa para spekulan mencoba permainkan harga, jadi kita pantau jangan sampai ada kenaikan harga di lapangan,” tandasnya.
Untuk stok gas tabung 3 kg, sambung Rihard, juga dalam kondisi aman. “Kami tadi memantau di agen terbesar di Bontang yakni Pantai Subur, disana stok gas aman, dan dalam waktu dekat akan ada penambahan 5.000 tabung tambahan,” jelas Rihard.
Untuk kuota tabung gas di Pantai Subur, dikatakan Rihard, per harinya 3.360 tabung. Jumlah pengecer ada 20 pangkalan. Setiap pangkalan ada yang dapat 100 tabung, sementara untuk pangkalan yang besar sehari bisa didistribusikan sebanyak 150 sampai 200 tabung. (cil)