Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Berau, Yudha Budisantosa, mengatakan keterlibatan pelajar dalam pementasan menjadi bagian penting dalam menjaga warisan budaya daerah.
“Ini menjadi ruang bagi generasi muda untuk mengenal dan melestarikan sejarah serta budaya Berau,” ujarnya.
Dalam pertunjukan tersebut, perjalanan Baddit Dipattung dalam memimpin Bumi Batiwakkal disampaikan melalui koreografi yang memadukan gerak tari, musik tradisional, dan busana bernuansa budaya Berau.
Narasi yang dibangun juga menggambarkan keharmonisan tiga etnis asli Berau, yakni Banua, Bajau, dan Dayak. Ketiganya ditampilkan sebagai bagian dari kehidupan masyarakat yang hidup berdampingan dan menjaga kerukunan.
Nuansa budaya bahari turut menjadi bagian penting dari identitas Berau yang memiliki wilayah pesisir dan kepulauan. Kehadiran etnis Bajau dalam gambaran keberagaman masyarakat Berau memperkuat pesan bahwa laut tidak hanya menjadi ruang ekonomi dan transportasi, tetapi juga menjadi bagian dari perjalanan sosial dan budaya masyarakat sejak masa lalu.
Melalui pementasan tersebut, sejarah tidak hanya disampaikan dalam bentuk tulisan, tetapi diterjemahkan ke dalam gerak dan ekspresi seni yang lebih mudah diterima generasi muda.
Sebanyak 100 penari tampil dinamis mengikuti alur cerita tentang perjalanan Baddit Dipattung sebagai tokoh penting dalam sejarah awal Kerajaan Berau. Kostum tradisional dan iringan musik yang megah membuat suasana pertunjukan semakin kuat.
Bagi Disbudpar Berau, keterlibatan pelajar dalam pementasan budaya menjadi salah satu cara untuk memastikan sejarah daerah tidak berhenti sebagai catatan masa lalu. “Sejarah harus terus dikenalkan agar nilai-nilai budaya tetap hidup dan diwariskan,” pungkasnya. (*)