Dinas Kesehatan (Dinkes) Berau mencatat sebanyak 3.425 kasus ISPA sepanjang Agustus 2026. Angka tersebut melonjak dibandingkan dua bulan sebelumnya. Pada Juni tercatat 2.494 kasus dan Juli 2.533 kasus. Artinya, dalam dua bulan, jumlah kasus meningkat hampir 1.000 kasus.
Kenaikan tersebut terjadi ketika Kabupaten Berau masih berhadapan dengan kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Berau, Rahmawati Saleh, membenarkan adanya peningkatan kasus berdasarkan pemantauan Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR). “Sepanjang Juni terdapat sebanyak 2.494 kasus, Juli 2.533, dan Agustus 3.425 kasus,” ungkap Rahmawati.
Lonjakan itu menjadi alarm ketika kualitas udara di Tanjung Redeb berada pada kategori tidak sehat. Salah satu pengukuran mencatat PM2,5 berada di angka 131, PM10 mencapai 153, sedangkan Total Suspended Particulates (TSP) berada di angka 193. Karbon monoksida (CO) tercatat 1,30. Kondisi tersebut diperparah dengan suhu udara yang mencapai 35,3 derajat Celsius dan kelembapan 59 persen. Lebih mengkhawatirkan, konsentrasi PM2,5 pada pengukuran lainnya sempat dilaporkan mencapai angka 1.050.
Data tersebut menunjukkan adanya periode ketika paparan partikulat halus berada pada tingkat yang sangat tinggi. Namun, untuk memastikan tingkat risikonya secara akurat, angka tersebut perlu dibaca berdasarkan satuan, waktu, lokasi, dan metode pengukurannya. PM2,5 menjadi persoalan serius karena ukurannya sangat kecil sehingga dapat masuk jauh ke dalam sistem pernapasan.
Paparan asap secara terus-menerus dapat memperburuk keluhan batuk, iritasi saluran pernapasan, hingga memperparah kondisi warga yang sebelumnya memiliki gangguan pernapasan. Yang juga perlu diperhatikan adalah kelompok rentan. Anak-anak, lansia, ibu hamil, serta masyarakat yang memiliki sensitivitas terhadap asap menghadapi risiko lebih besar ketika kualitas udara terus memburuk.
Dinkes Berau mengaku telah melakukan langkah perlindungan dengan membagikan ribuan masker kepada masyarakat. Imbauan juga disampaikan agar warga mengurangi aktivitas di luar ruangan, terutama ketika konsentrasi asap meningkat. Namun, fakta bahwa ribuan kasus ISPA tercatat dalam satu bulan menunjukkan bahwa persoalan kesehatan tidak bisa hanya dijawab dengan pembagian masker.
Rumah sakit dan puskesmas mulai menerima warga dengan keluhan batuk dan sesak napas. Kendati demikian, Dinkes Berau menyebut belum menerima informasi mengenai pasien yang harus menjalani rawat inap akibat sesak napas.
“Kalau rawat inap belum ada informasinya, tetapi yang masuk IGD sudah ada,” ujar Rahmawati. Situasi ini menimbulkan pertanyaan lebih besar: seberapa siap sistem kesehatan Berau menghadapi dampak kabut asap jika kualitas udara terus memburuk. Sebab, angka 3.425 kasus ISPA bukan hanya statistik bulanan.
Di balik angka itu terdapat ribuan warga yang harus berhadapan dengan gangguan kesehatan ketika sumber pencemaran udara belum sepenuhnya teratasi. Penanganan karhutla dengan demikian tidak dapat dipisahkan dari perlindungan kesehatan masyarakat.
Memadamkan titik api memang menjadi langkah utama, tetapi pemerintah juga dituntut memastikan masyarakat mendapatkan informasi kualitas udara secara terbuka, perlindungan bagi kelompok rentan, akses layanan kesehatan, serta kebijakan pembatasan aktivitas ketika kondisi udara mencapai tingkat berbahaya.
Jika kabut asap terus bertahan dan konsentrasi partikulat tetap tinggi, kenaikan ISPA berpotensi menjadi indikator awal dari persoalan kesehatan yang lebih luas . Rahmawati mengingatkan masyarakat agar tidak mengabaikan kondisi udara dan segera mencari pertolongan medis apabila mengalami gangguan pernapasan.
“Kalau mengalami sesak atau keluhan pernapasan yang berat, segera periksa ke fasilitas kesehatan. Jangan menunggu kondisinya semakin parah,” tandasnya.