Dalam pemaparannya, Edy menekankan pentingnya membangun ekosistem ekonomi kreatif yang mampu menghubungkan pelaku usaha dengan pemerintah, perbankan, swasta, hingga pasar.
“UMKM ini sektor strategis yang harus dibangkitkan,” katanya.
Transformasi ekonomi Berau membuat penguatan UMKM semakin penting. Pelaku usaha lokal tidak boleh dibiarkan berjalan sendiri, melainkan membutuhkan akses permodalan, pendampingan, promosi, dan kesempatan mengikuti berbagai pameran.
Dalam konteks ekonomi kreatif, Edy mendorong pelaku usaha menjadikan keunikan produk lokal sebagai kekuatan untuk membangun daya saing. Produk makanan, kerajinan, dan berbagai usaha kreatif lainnya harus dikembangkan dengan memperhatikan kualitas, kemasan, standardisasi, serta kebutuhan konsumen.
Ia juga menilai persaingan pasar bukan ancaman, melainkan ruang untuk memperbaiki produk. Pelaku usaha dituntut mampu membaca keunggulan kompetitor dan menemukan nilai tambah yang membuat produknya berbeda.
“Jangan takut bersaing. Kompetisi harus membuat kita berbenah,” ujarnya.
Kolaborasi dengan perbankan diarahkan pada akses pembiayaan dan digitalisasi transaksi. Sementara itu, sektor swasta dapat mendukung melalui tanggung jawab sosial perusahaan (CSR), promosi, pameran, serta pemanfaatan produk lokal dalam rantai pasok.
Edy juga menggagas pengembangan kawasan kuliner terpadu sebagai wadah ekonomi kreatif sekaligus destinasi wisata. Konsep tersebut diharapkan mampu mempertemukan produk lokal, kreativitas, dan pasar dalam satu kawasan.
“Potensi Berau luar biasa, tinggal bagaimana kita mengelolanya bersama,” pungkasnya. (*)