Direktur Perumda Air Minum Batiwakkal Saipul Rahman menyebut kondisi tersebut terjadi karena kemampuan keuangan perusahaan belum memungkinkan untuk melakukan penambahan tenaga kerja dalam jumlah besar. Tarif air yang belum mengalami penyesuaian signifikan menjadi salah satu faktor yang membatasi ruang gerak perusahaan dalam memperkuat struktur organisasi.
“Kondisi internal perusahaan mengharuskan kami bertahan dengan jumlah pegawai yang jauh di bawah kebutuhan ideal,” ujar Saipul.
Untuk mengelola seluruh layanan air bersih di Kabupaten Berau secara optimal, Perumda Batiwakkal idealnya memiliki sekitar 300 pegawai. Namun hingga saat ini jumlah pegawai aktif yang dimiliki perusahaan hanya berkisar 100 orang.
Akibat kekurangan sekitar 200 pegawai tersebut, sejumlah pekerjaan yang seharusnya ditangani beberapa orang terpaksa dikerjakan oleh satu pegawai. Kondisi itu membuat efisiensi menjadi strategi utama perusahaan agar operasional tetap berjalan tanpa membebani keuangan daerah maupun perusahaan.
“Kami sebenarnya membagi pekerjaan yang seharusnya dikerjakan oleh 300 orang, tetapi sekarang dikerjakan oleh sekitar 100 orang saja,” ujarnya.
Pola kerja dengan jumlah pegawai terbatas tersebut telah diterapkan sejak 2011. Selama lebih dari satu dekade, perusahaan berupaya menekan biaya operasional dengan tidak menambah pegawai secara signifikan, meskipun kebutuhan SDM terus meningkat seiring perkembangan jaringan pelayanan.
“Beban pekerjaan tiga orang sering kali harus dikerjakan oleh satu orang. Itu cara kita bertahan supaya biaya operasional tetap bisa ditekan,” jelas Saipul.
Di sisi lain, tingginya minat masyarakat untuk bekerja di Perumda Batiwakkal tidak dapat diakomodasi karena keterbatasan anggaran. Menurut Saipul, persoalan utama bukan pada ketersediaan calon tenaga kerja, melainkan kemampuan perusahaan dalam menjamin pembayaran gaji secara berkelanjutan.
“Banyak yang ingin masuk kerja dan sebenarnya kami juga kekurangan orang. Tetapi kalau direkrut, sumber anggaran untuk menggaji mereka harus dipastikan terlebih dahulu,” paparnya.
Kondisi tersebut berbeda dengan sejumlah perusahaan air minum di daerah lain yang memiliki jumlah pegawai lebih banyak. Dengan SDM yang memadai, pembagian tugas dapat dilakukan secara lebih spesifik dan terstruktur.
Dengan keterbatasan SDM tersebut menjadi gambaran tantangan yang dihadapi Perumda Batiwakkal dalam menjaga keberlanjutan layanan air bersih, sekaligus menunjukkan besarnya tuntutan efisiensi yang harus dijalankan perusahaan di tengah keterbatasan anggaran.
“Di daerah lain pegawainya bisa tiga kali lipat dari kami. Kalau disini satu orang bisa menangani beberapa pekerjaan sekaligus,” pungkasnya.
Editor: Aspian Nur