Kegiatan yang diinisiasi WWF Indonesia tersebut mempertemukan peserta dari Indonesia, Malaysia, Filipina, dan Thailand untuk bertukar pengetahuan terkait pengelolaan sampah plastik berkelanjutan di wilayah kepulauan dan pesisir.
Wakil Bupati Berau Gamalis yang membuka kegiatan itu menegaskan persoalan sampah kini menjadi tantangan serius yang harus ditangani bersama.
Meningkatnya jumlah wisatawan ke kawasan wisata bahari Berau harus diimbangi dengan sistem pengelolaan sampah yang lebih baik agar tidak menimbulkan pencemaran lingkungan, khususnya sampah plastik sekali pakai.
“Pulau Gerawan hari ini menjadi pilot project penanganan sampah melalui TPS3R. Ini bukan hanya kebanggaan, tetapi bagian dari upaya agar sampah di Berau benar-benar terkelola dengan baik,” ujarnya.
Berdasarkan data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup tahun 2024, timbunan sampah di Kabupaten Berau mencapai sekitar 54 ribu ton. Dari jumlah tersebut, sekitar 67,67 persen telah terkelola, sedangkan 32,33 persen lainnya masih belum tertangani.
Gamalis mengatakan komposisi sampah plastik terus meningkat dan berpotensi mencemari lingkungan, baik tanah maupun udara. Karena itu, pemerintah daerah terus mendorong penerapan sistem pengelolaan sampah terpadu berbasis reduce, reuse, recycle (3R).
Ia juga mengingatkan tempat pemrosesan akhir sampah diperkirakan mengalami kelebihan kapasitas pada 2028 apabila penanganan sampah tidak diperkuat sejak sekarang. Salah satu solusi yang dinilai efektif ialah pengembangan TPS3R berbasis masyarakat.
TPS3R merupakan fasilitas pengelolaan sampah komunal yang menerapkan prinsip pengurangan, penggunaan kembali, dan daur ulang. Dalam sistem tersebut, sampah dipilah sejak dari sumbernya. Sampah organik dapat diolah menjadi kompos maupun pakan maggot, sedangkan sampah anorganik dipilah untuk didaur ulang sehingga memiliki nilai ekonomis.
Selain penguatan TPS3R, Pemkab Berau juga tengah menyusun Peraturan Bupati (Perbup) tentang pengurangan penggunaan plastik sekali pakai. Regulasi itu dirancang untuk mendorong pengurangan sampah dari sumbernya, termasuk di sektor pariwisata dan perhotelan.
“Kami berharap hotel-hotel tidak lagi menyediakan botol air mineral kemasan kecil di kamar, tetapi menyediakan refill station agar tamu bisa mengisi ulang tumbler mereka,” ucapnya.
Edukasi pengurangan sampah plastik juga terus dilakukan kepada masyarakat dan wisatawan yang berkunjung ke sejumlah destinasi wisata unggulan Berau, mulai dari Biduk-Biduk, Labuan Cermin, hingga Pulau Maratua.
Sementara itu, Responsible Marine Tourism Manager WWF Indonesia, Ratna, menyampaikan Plastic Smart Islands menjadi ruang pembelajaran bersama antarnegara dalam mencari solusi pengelolaan sampah yang efektif di kawasan pulau dan wisata bahari.
“Kegiatan ini menjadi wadah kolaborasi untuk berbagi praktik baik pengelolaan sampah, khususnya di wilayah pesisir dan kepulauan,” tutupnya.
Editor: Erwin