Di tengah upaya transformasi ekonomi dari sektor tambang menuju perikanan dan pertanian, komoditas ini bahkan telah menembus pasar ekspor.
Kepala Bidang Budidaya Dinas Perikanan Berau, Budiono, mengatakan saat ini budidaya rumput laut di Kampung Karangan telah mencapai sekitar 60 hektare dengan melibatkan 40 rumah tangga perikanan.
“Rumput laut ini kami dorong menjadi sektor unggulan budidaya menuju hilirisasi dan transformasi ekonomi,” ujarnya, kepada Korankaltim.com, Senin (11/5/2026).
Menurutnya, produksi rumput laut dari Biatan kini rutin dipasarkan ke luar negeri. Dalam tiga bulan, pengiriman mencapai dua kontainer atau sekitar 40 ton. Jika dihitung dalam setahun, produksinya diperkirakan mencapai 160 hingga 360 ton.
Permintaan ekspor sementara berasal dari Cina dan Hongkong, meski distribusi dilakukan melalui Tarakan, Surabaya, dan Makassar. Harga rumput laut kering untuk ekspor pun mencapai sekitar Rp15 ribu per kilogram, lebih tinggi dibanding pasar lokal yang berkisar Rp11-12 ribu per kilogram.
Budiono menilai budidaya rumput laut memiliki banyak keunggulan karena tidak membutuhkan pakan dan memiliki nilai turunan yang luas, mulai dari bahan kosmetik hingga kesehatan.
“Modalnya sekali panen bisa kembali dan masih ada marginnya,” katanya.
Ia menjelaskan, masa panen rumput laut relatif singkat, yakni sekitar 45 hari dengan estimasi investasi awal sekitar Rp45 juta. Kondisi tersebut dinilai menjanjikan bagi masyarakat pesisir dan pelaku UMKM.
Namun, pengembangan budidaya rumput laut tidak bisa dilakukan di semua wilayah. Faktor kualitas air, konflik pemanfaatan ruang laut, hingga lalu lintas perairan menjadi tantangan tersendiri.
“Kampung Karangan ini berada di kawasan air payau, campuran air tawar dan laut, sehingga cukup cocok untuk budidaya,” jelasnya.
Budiono menambahkan, kewenangan budidaya di wilayah laut berada di pemerintah provinsi. Karena itu, Dinas Perikanan Berau saat ini fokus pada peningkatan kapasitas sumber daya manusia melalui pelatihan dan pendampingan.
Tahun ini, pihaknya berencana memberangkatkan lima pembudidaya ke Balai Besar Budidaya Rumput Laut di Takalar untuk meningkatkan keterampilan budidaya.
Selain rumput laut, Diskan Berau juga mendorong pengembangan komoditas strategis lain seperti bandeng, udang windu, kepiting, dan rajungan sesuai potensi wilayah masing-masing.
“Pertengahan Juni nanti kami coba fasilitasi diskusi dan sosialisasi agar masyarakat semakin tertarik mengembangkan budidaya rumput laut,” pungkasnya.
Editor: Erwin