Penghargaan tersebut diserahkan dalam Parade Gender Kalimantan Timur 2026 yang digelar bertepatan dengan peringatan Hari Kartini ke-147 beberapa waktu lalu.
Kegiatan ini menjadi langkah konkret pemerintah daerah dalam mengimplementasikan Pengarusutamaan Gender (PUG) di berbagai sektor pembangunan. Melalui ajang ini, pemerintah tidak hanya memberikan penghargaan, tetapi juga menegaskan pentingnya peran perempuan dalam pembangunan berkelanjutan.
Satu diantara penerima penghargaan adalah Ketua Bank Sampah Al Inaabah Khatarinawati yang dinilai berhasil mendorong pemberdayaan perempuan melalui pengelolaan lingkungan hidup berbasis masyarakat. Upaya yang dirintisnya sejak 2017 di Kelurahan Gunung Panjang, Kabupaten Berau, kini menjadi contoh praktik baik dalam pengelolaan sampah terpadu.
Bank Sampah Al Inaabah berdiri berdasarkan Surat Keputusan Lurah Gunung Panjang Nomor 9 Tahun 2017. Awalnya, kegiatan dilakukan secara sederhana dengan memanfaatkan lahan di samping rumah warga tanpa fasilitas permanen. Konsep “Sedekah Sampah” menjadi fondasi gerakan tersebut, mengajak masyarakat menyumbangkan sampah bernilai guna untuk kegiatan sosial.
“Sejak awal kami ingin mengubah cara pandang masyarakat terhadap sampah, bahwa sampah juga bisa menjadi berkah,” ujar Khatarinawati kepada Korankaltim.com Jumat (1/5/2026) hari ini.
Seiring waktu, program ini terus berkembang. Pada 2022, Bank Sampah Al Inaabah memperoleh bantuan pembangunan gedung melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) dari PT PLN Tarakan.
Dukungan ini memperkuat kapasitas pengelolaan, termasuk pengolahan kompos dari sampah organik, pembuatan ecobrick menjadi furnitur seperti sofa, serta pemanfaatan lubang biopori untuk resapan air sekaligus pengolahan limbah organik.
Data capaian menunjukkan perjalanan yang tidak selalu mulus. Pada 2017, nilai pengelolaan sampah mencapai Rp8,1 juta, namun menurun hingga titik terendah pada 2021 dengan capaian nol. Kondisi tersebut kemudian berbalik sejak 2022 dengan tren peningkatan signifikan hingga mencapai Rp10 juta lebih pada 2025, menjadi capaian tertinggi sepanjang periode tersebut.
Hasil pengelolaan sampah tersebut tidak hanya berdampak ekonomi, tetapi juga sosial. Sebanyak 80 persen dari hasil penjualan sampah disalurkan untuk kegiatan masjid dan sosial, sementara 20 persen digunakan untuk operasional bank sampah.
Sementara itu, Kepala Bidang Kualitas Hidup Perempuan pada Dinas PPKBP3A Berau Mardia menilai Khatarinawati sebagai sosok inspiratif dalam pemberdayaan perempuan berbasis lingkungan.
Penghargaan Gender Champion 2026 diharapkan menjadi motivasi bagi perempuan lain untuk terus berkontribusi dalam pembangunan daerah, sekaligus memperkuat peran mereka dalam menciptakan perubahan yang berkelanjutan.
“Beliau konsisten sejak 2017 menggerakkan perempuan untuk peduli lingkungan. Ini bukan sekadar pengelolaan sampah, tetapi gerakan sosial yang berdampak luas,” kata Mardia.
Editor: Aspian Nur