Sekretaris Daerah (Sekda) Berau Muhammad Said mengungkapkan, kondisi tersebut menjadi perhatian serius pemerintah daerah mengingat dari total 14 kampung di Kecamatan Kelay sebagian besar masih menghadapi persoalan gizi kronis pada anak.
“Kalau secara logika, harusnya dengan adanya perusahaan sawit, masyarakat lebih terjamin. Tapi justru di wilayah itu angka stunting cukup tinggi,” kata Said kepda Korankaltim.com Selasa (14/4/2026) hari ini.
Data yang ada saat ini diduga belum sepenuhnya menggambarkan kondisi riil di lapangan. “Yang terdata saja sudah tinggi, apalagi kalau semua kasus benar-benar terlaporkan, kemungkinan angkanya lebih besar,” jelas Said lagi.
Kondisi tersebut menunjukkan adanya persoalan dalam pengelolaan potensi wilayah mengingat Kelay dinilai memiliki kekayaan sumber daya alam yang melimpah, namun belum diimbangi dengan pengelolaan yang optimal.
“Kelay ini bukan kekurangan potensi, justru kelebihan. Hanya saja pengelolaannya yang mungkin belum maksimal,” sebutnya.
Pemerintah Kabupaten Berau tetap membuka peluang investasi termasuk dari sektor perkebunan. Kehadiran perusahaan harus memberikan dampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat, terutama dalam upaya penurunan stunting.
“Kami terbuka terhadap investasi, tapi tujuannya jelas yaitu mensejahterakan masyarakat,” tegasnya.
Perusahaan diingatkan untuk tidak hanya berorientasi pada keuntungan, melainkan turut berperan dalam pemberdayaan masyarakat sekitar. Selain itu, ia meminta agar tidak terjadi kesenjangan atau diskriminasi dalam distribusi manfaat pembangunan.
“Jangan sampai masyarakat terkotak-kotak atau ada diskriminasi terhadap hak yang seharusnya mereka dapatkan,” ucap Said.
Peran pemerintah kecamatan dan kepala kampung dalam membina serta menyinergikan hubungan antara masyarakat dan perusahaan juga penting dan diharapkan kolaborasi tersebut mampu menekan angka stunting sekaligus meningkatkan kesejahteraan warga.
“Kami berharap peran kecamatan dan kepala kampung bisa lebih maksimal dalam membina dan menyinergikan semua pihak,” tutup Said.
Editor: Aspian Nur