Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Peternakan (DTPHP) Berau Lita Handini mengungkapkan, saat ini luas lahan sawah existing di Berau kurang lebih mencapai 3.000 hektare. Pemerintah juga telah melakukan cetak sawah baru seluas 425 hektare, serta menargetkan tambahan 1.300 hektare pada 2026.
“Kalau untuk lahan sawah existing ada sekitar 3.000 hektare lebih. Tahun ini kita juga sudah cetak sawah baru 425 hektare, dan 2026 direncanakan ada tambahan 1.300 hektare,” kata Lita kepada Korankaltim.com Selasa (14/4/2026).
DTPHP BErau berupaya mengaktifkan kembali lahan-lahan yang terbengkalai agar kembali produktif. Total potensi lahan pertanian di Berau bahkan bisa mencapai 6.000 hektare. “Sebenarnya potensi cukup, sampai 6.000 hektare. Tapi kendala kita itu di petani,” imbuh Lita.
Jumlah petani di Berau terus menurun, sementara mayoritas petani yang ada saat ini sudah berusia lanjut. Kondisi ini berdampak pada kemampuan pengelolaan lahan yang semakin terbatas.
“Petani semakin berkurang, dan yang ada usianya sudah tua, sehingga kemampuan mengerjakan lahannya terbatas,” papar Lita.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, DTPHP Berau telah membentuk kelompok tani milenial melalui program Brigade Pangan. Namun, minat generasi muda dinilai masih fluktuatif.
“Minatnya itu timbul tenggelam. Kadang semangat, kadang tidak. Anak muda cenderung ingin yang instan dan mudah, sehingga usaha tani dianggap sulit,” sebutnya.
Sebagai strategi menarik minat generasi muda, pemerintah mulai mendorong penggunaan alat dan teknologi modern dalam pertanian. Mekanisasi diharapkan mampu mengubah persepsi bahwa bertani adalah pekerjaan tradisional.
“Kami terus sosialisasikan kalau bertani juga bisa menghasilkan. Sekarang sudah pakai mesin, mulai dari tanam, pemupukan, sampai panen. Jadi tidak lagi terkesan tradisional,” ucap Lita lagi.
DTPHP Berau juga membuka peluang kolaborasi dengan perguruan tinggi untuk mendukung pengembangan teknologi pertanian. Meski kerja sama formal terkendala anggaran, komunikasi tetap dijalin.
“Kami pernah kerja sama dengan universitas. Walaupun tahun ini belum ada, ke depan tetap bisa berkomunikasi untuk pengembangan teknologi,” tutup Lita.
Editor: Aspian Nur