Meningkatnya permintaan hewan kurban setiap tahun berbanding lurus dengan risiko peredaran hewan yang tidak terjamin kesehatannya. Dia menilai, pengawasan ketat sejak dini menjadi kunci agar masyarakat memperoleh hewan kurban yang layak dan aman dikonsumsi.
“Karena kesehatan hewan kurban berkaitan dengan lalu lintas hewan yang akan keluar masuk Berau,” ujarnya, Minggu (12/4/2026).
Dia menegaskan, sebelum hewan diperjualbelikan, para pedagang dan peternak seharusnya mendapatkan pendampingan langsung dari DTPHP. Pendampingan ini mencakup pemeriksaan kesehatan, vaksinasi, hingga penerbitan surat keterangan kesehatan hewan.
Langkah tersebut dinilai penting untuk menekan potensi penyebaran penyakit hewan menular, yang bisa berdampak luas tidak hanya pada sektor peternakan, tetapi juga kesehatan masyarakat.
“Supaya hewan ternak yang keluar masuk ke Berau harus disiapkan mulai dari sekarang,” imbuhnya.
Selain aspek kesehatan, Politisi Partai Golkar itu juga menyoroti potensi kenaikan harga daging menjelang hari raya. Ia meminta pemerintah daerah melalui dinas terkait untuk aktif memantau pergerakan harga di pasar guna mencegah praktik monopoli atau spekulasi yang merugikan masyarakat.
“Harga di pasaran juga harus terus dipantau supaya nanti pada saat hari raya tidak ada yang namanya monopoli harga,” tegasnya.
Selain itu, diperlukan koordinasi lintas sektor, termasuk pengawasan distribusi hewan dan daging, agar kebutuhan masyarakat selama Iduladha dapat terpenuhi secara merata.
Dengan persiapan yang matang, pelaksanaan kurban tahun ini dapat berjalan lancar tanpa kendala berarti. Ia pun mendorong seluruh pihak, baik pemerintah maupun pelaku usaha, untuk mulai bergerak sejak sekarang.
“Kalau bisa dipersiapkan dari sekarang segala keperluan dan kepentingan terkait hari raya kurban nanti,” pungkasnya.
Editor: Erwin