Ia menegaskan pentingnya diversifikasi produk batik, mulai dari busana formal hingga kasual, termasuk konsep pasangan untuk meningkatkan daya tarik pasar.
“Jangan hanya bikin batik saja. Harus ada pilihan desain formal, informal, bahkan couple suami istri,” ujarnya, Kamis (9/4/2026).
Ia menyebut kemampuan pelaku UMKM sudah cukup memadai, terutama setelah mendapat pelatihan menjahit dan desain. Namun, tantangan berikutnya adalah bagaimana mengemas produk agar lebih kompetitif dan bernilai tambah.
Menurutnya, kolaborasi antara perajin, penenun, dan desainer menjadi kunci agar produk lokal tampil lebih modern tanpa meninggalkan identitas budaya.
“Sudah harus bisa bekerja sama dengan desainer supaya produk kita bisa ditampilkan lebih menarik,” katanya.
Selain desain, ia juga menyoroti pentingnya kesiapan sektor UMKM dalam menyambut lonjakan kunjungan wisatawan ke Berau, khususnya di destinasi seperti Biduk-Biduk, Maratua, dan Derawan. Tingginya angka kunjungan dinilai sebagai peluang besar untuk memasarkan produk lokal.
“Kita harus siap dengan oleh-oleh. Jangan sampai wisatawan datang, tapi produk kita belum siap,” tegasnya.
Pemkab Berau, lanjutnya, tengah merancang penguatan ekosistem UMKM melalui pembangunan pusat UMKM (UMKM Center) yang ditargetkan terealisasi pada 2027, setelah penyelesaian Mal Pelayanan Publik (MPP).
Dalam upaya promosi, Sri Juniarsih juga mendorong pemanfaatan media sosial secara optimal. Ia bahkan menekankan pentingnya akun resmi UMKM yang terverifikasi untuk memperluas jangkauan pasar.
Tak hanya itu, ia juga meminta keterlibatan content creator untuk membantu promosi produk lokal dengan pendekatan kreatif. Konten visual yang menampilkan perpaduan busana, aksesori, hingga lokasi wisata dinilai efektif meningkatkan daya tarik pasar.
“UMKM harus punya media sosial yang kuat. Cari follower sebanyak-banyaknya,” tutupnya.
Sementara itu, Ketua Dekranasda Berau, Edy Suswanto, menyatakan kesiapannya untuk mendukung arahan tersebut, termasuk menyiapkan produk unggulan yang akan ditampilkan dalam ajang Dekranasda di Makassar pada Juli mendatang.
“Kami siap menampilkan produk terbaik, mulai dari batik, kerajinan, hingga kuliner khas Berau. Ini kesempatan untuk memperkenalkan kualitas produk daerah,” ujarnya.
Tak hanya itu, pihaknya akan meningkatkan kualitas kemasan (packaging) agar produk memiliki nilai jual lebih tinggi. Ia mencontohkan kerajinan bros yang dinilai sudah bagus dari sisi bentuk, namun perlu sentuhan kemasan agar lebih menarik.
“Kalau packaging bagus, harga bisa naik. Ini yang harus diperhatikan,” katanya.
Sebab, pengembangan ekonomi kreatif harus dibarengi dengan keseriusan, sinergi lintas sektor, serta kemauan untuk terus belajar. Menurutnya, pelaku UMKM tidak boleh cepat puas dan harus aktif mencari referensi serta membangun jejaring.
“Jangan merasa sudah bisa. Kita harus terus belajar agar produk kita semakin berkembang,” tandasnya.
Editor: Erwin