Forum ini menjadi langkah awal untuk mengintegrasikan usulan dari tingkat kampung hingga kecamatan ke dalam perencanaan pembangunan daerah.
Wakil Bupati Berau Gamalis menyampaikan, pemerintah menargetkan penurunan prevalensi stunting menjadi 14,4 persen pada 2028 dan 5 persen pada 2045, sebagaimana tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2025–2045. “Komitmen ini harus kita wujudkan bersama melalui kerja nyata dan kolaborasi lintas sektor,” kata Gamalis.
Berdasarkan data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2024, prevalensi stunting di Berau mencapai 23,4 persen. Angka ini mengalami peningkatan dibanding tahun sebelumnya dan masih berada di atas rata-rata nasional. Kondisi tersebut menjadi perhatian serius pemerintah daerah dalam merumuskan langkah strategis yang lebih efektif.
Selain itu, data Sistem Informasi Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak (SIGIZI KESGA) tahun 2025 mencatat jumlah balita di Berau sebanyak 23.105 anak. Namun, persentase balita yang telah diukur pertumbuhannya baru mencapai 40,06 persen. Rendahnya kunjungan ke posyandu dinilai menjadi salah satu tantangan utama dalam pemantauan tumbuh kembang anak.
“Ini menjadi pekerjaan rumah kita bersama. Kunjungan balita ke posyandu harus ditingkatkan agar pemantauan kesehatan anak berjalan optimal,” ucap Gamalis.
Dalam evaluasi Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur tahun 2025, Kabupaten Berau berada di peringkat ke-10 dari 10 kabupaten/kota dalam penilaian kinerja aksi konvergensi percepatan penurunan stunting, dengan skor 94. Meski demikian, terdapat peningkatan dibanding capaian tahun sebelumnya.
Ia juga mendorong keterlibatan aktif Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS), perangkat kampung dan kelurahan, Tim Pendamping Keluarga (TPK), Kader Pembangunan Manusia (KPM), serta seluruh elemen masyarakat.
Di sisi lain, Pemkab Berau juga mencatat sejumlah capaian positif, di antaranya penyelesaian Web Bangda 100 persen, masuk dalam 20 kabupaten/kota terbaik pelaksanaan Pemberian Makanan Tambahan (PMT) lokal, serta penghargaan dari BKKBN melalui program Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting.
“Capaian ini harus kita pertahankan dan tingkatkan. Saya berharap forum ini menghasilkan rekomendasi nyata yang bisa segera kita eksekusi,” pungkas Gamalis.
Editor: Aspian Nur