Warga lainnya, Stanley Huvat (45) warga Kampung Long Krioq, Kecamatan Long Apari mengatakan kondisi Sungai Mahakam di kawasan Long Apari sangat surut. Hal itu membuat harga sembako semakin berlipat ganda.
“Biasanya harga normal beras per kilogram hanya Rp 20.000 hingga Rp25. 000. Tapi karena kemarau saat ini beras mencapai Rp 35. 000 hingga Rp 45. 000, “ ungkapnya.
Dia menambahkan, musim kemarau saat ini benar-benar membuat warga di Mahulu menderita. Harga kebutuhan pokok yang mencekik, tak sebanding dengan penghasilan. “ Begitu juga dengan Bahan Bakar Minyak (BBM). Sebenarnya selama ini sudah satu harga seperti instruksi Presiden. Tapi karena angkutannya saat ini menggunakan transport estafet sehingga harga BBM melonjak,” papar Stanley.
Julius (37) warga Kampung Ujoh Bilang yang kesehariannya sebagai motoris speedboat taksi angkutan penumpang dan barang jurusan Kubar-Mahulu, mengeluhkan kondisi ini.
“Sangat sulit dan rawan kecelakaan. Karena Kerangan (pulau batu di tengah Sungai Mahakam) sudah muncul karena air Mahakam surut. Kawasan parah mulai dari Kecamatan Long Hubung hingga Long Bagun. Terparah di kawasan Kerangan Seratus menuju kawasan Batu Dinding. Saya antisipasi dengan melengkapi speedboat dengan alat pelampung renang bagi penumpang,” tukasnya.
Pantauan langsung Koran Kaltim, kondisi Sungai Mahakam di Kecamatan Tering dan Long Iram, Kutai Barat (Kubar) sore kemarin, memang dalam kondisi mendekati ambang batas.
“Sudah semakin surut. Mungkin kapal motor kami hanya sampai di Kecamatan Long Hubung atau di Kecamatan Laham saja. Selanjutnya akan bongkar, dan diangkut longboat atau kapal kelotok ke Kecamatan Long Bagun,” beber Alfian (38), Kapten kapal tanker bermuatan BBM jenis solar dan bensin tujuan Mahulu yang bertambat di Kawasan Gruty, Kecamatan Tering, sore kemarin. (imr)