Hingga kini, sebagian besar warga setempat hanya mengandalkan air sumur bor dengan kualitas yang jauh dari layak konsumsi.
Kepala Kampung Tanjung Batu, Darwis, mengungkapkan ada empat RT yang sama sekali kesulitan mendapatkan air bersih, yakni RT 8, 14, 5 dan 11.
Bahkan, upaya membuat sumur bor maupun sumur galian belum mampu menghadirkan air layak pakai.
“Kalau kita buat sumur bor atau sumur galian, airnya sangat merah dan asin. Ini jadi persoalan serius bagi masyarakat,” ujarnya.
Kondisi tersebut membuat warga terpaksa bergantung pada air hujan atau membeli air bersih dengan harga mahal, terutama saat musim kemarau tiba.
Sekretaris DPUPR Berau, Bambang Sugianto, menyampaikan pemerintah daerah saat ini tengah membangun Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) di Kampung Merancang, Kecamatan Gunung Tabur.
Infrastruktur tersebut direncanakan dapat menjangkau hingga Tanjung Batu di Kecamatan Pulau Derawan.
“Namun untuk sampai ke Tanjung Batu masih membutuhkan waktu lama dan biaya yang sangat besar,” jelasnya.
Dalam jangka pendek, pemerintah akan mengoptimalkan instalasi air bersih yang telah dibangun melalui dukungan APBN, sambil terus mencari sumber mata air di Tanjung Batu yang hingga kini belum ditemukan.
“Kami masih mencari sumber mata air dan akan bekerja sama dengan pihak kampung,” tambahnya.
Bupati Berau, Sri Juniarsih Mas, menegaskan persoalan air bersih selalu muncul dalam Musrenbang setiap tahun.
Ia menilai teknologi desalinasi bisa menjadi solusi bagi wilayah pesisir dan pulau kecil seperti Tanjung Batu.
Menurutnya, teknologi ini telah digunakan di sejumlah wilayah Indonesia seperti Kepulauan Seribu, pesisir Jepara dan Rembang, hingga Kampung Malahing di Bontang, serta secara luas di negara-negara Timur Tengah.
“Kami akan percepat kajian pada perubahan anggaran 2026 untuk mencari solusi air bersih bagi masyarakat. Ini kebutuhan dasar yang harus segera dipenuhi,” ujar Sri.
Editor: Aspian Nur