Dalam forum tersebut, Dedy menegaskan Pulau Derawan merupakan ikon pariwisata Kabupaten Berau yang sejak awal dikenal hingga tingkat nasional. Namun, ia menilai kondisi kawasan wisata tersebut kini mulai kehilangan daya tarik akibat pembangunan yang tidak tertata.
“Awal mula objek wisata yang dikenal di Berau itu ialah Pulau Derawan. Pulau ini sudah dikenal secara nasional,” ujarnya.
Menurutnya, perkembangan pembangunan yang tidak terkontrol justru membuat keindahan Pulau Derawan semakin berkurang.
Ia menilai, perlu adanya regulasi yang jelas untuk menata kawasan wisata, khususnya terkait pembangunan resort di sepanjang pesisir.
“Saya lihat Pulau Derawan sudah tidak tertata. Maksud saya, agar wisatawan lebih tertarik berkunjung, secara regulasi perlu dibuatkan aturan untuk pembangunan resort,” tegasnya.
Dedy mengungkapkan, kekhawatirannya terhadap kondisi pantai berpasir putih yang kini semakin tertutup bangunan resort yang menjorok ke laut sehingga membuat akses masyarakat dan wisatawan untuk menikmati pantai menjadi terbatas.
“Saya lihat sudah tidak ada lagi tempat-tempat kita bisa jalan. Pasir putihnya tertutup oleh resort-resort yang ke laut. Ini harus dibatasi. Pemerintah daerah harus membuat aturan membatasi itu dulu,” katanya.
Dahulu wisatawan dapat mengelilingi Pulau Derawan dengan leluasa menikmati panorama pantai. Namun kini, kondisi tersebut mulai berubah karena banyaknya bangunan di kawasan pesisir.
“Dulu, kita bisa keliling Derawan menikmati pulau, tapi sekarang tertutup banyak bangunan. Ini harus dikaji, karena Pulau Derawan merupakan objek wisata andalan kita,” jelasnya.
Untuk itu, dirinya meminta agar dinas terkait segera melakukan kajian menyeluruh dan menata kembali kawasan Pulau Derawan agar kembali menjadi destinasi wisata yang nyaman dan menarik.
“Saya tolong diperhatikan penataannya. Jangan diizinkan membangun resort sembarangan. Ini harus dikaji dan ditata supaya lebih bagus dan lebih enak kita berkunjung ke sana,” pungkasnya.
Editor: Erwin