Peresmian gedung yang dibangun menggunakan Alokasi Dana Kampung (ADK) 2025 sebesar Rp673 juta itu menjadi sorotan karena di tengah kondisi efisiensi anggaran, pemerintah kampung tetap mampu menghadirkan fasilitas bersama yang multifungsi.
Bupati Sri Juniarsih Mas mengapresiasi inisiatif Pemerintah Kampung Kayu Indah yang dinilai berhasil menghadirkan ruang kolaborasi bagi berbagai lembaga kampung. Menurutnya, konsep gedung bersama merupakan gagasan yang patut dicontoh.
“Gedung ini multifungsi karena dimiliki beberapa organisasi. Ini gagasan luar biasa, hemat dan manfaat,” ujarnya.
Ia berharap keberadaan satu sekretariat terpadu mampu memperkuat koordinasi antarlembaga serta meningkatkan kualitas pelayanan masyarakat.
Gedung tersebut diharapkan menjadi pusat aktivitas sosial, literasi, hingga pelatihan masyarakat.
“Saya berharap koordinasi semakin efektif, organisasi bergerak maksimal, dan pelayanan kepada masyarakat berjalan baik,” katanya.
Meski mengapresiasi hasil pembangunan, Bupati juga menyinggung pentingnya perawatan dan pemanfaatan gedung secara optimal. Sebab, gedung ini tidak boleh sekadar menjadi simbol pembangunan.
“Gedung ini bukan hanya simbol pembangunan, tapi harus menjadi pusat aktivitas, inovasi, dan literasi masyarakat,” tegasnya.
Bahkan, ia menyoroti tantangan berkurangnya alokasi dana kampung akibat efisiensi anggaran. Ia mendorong pemerintah kampung untuk lebih kreatif menggali potensi Pendapatan Asli Kampung (PAK).
“Di tengah efisiensi anggaran, saya berharap inovasi dan kreativitas meningkatkan pendapatan kampung terus dilakukan,” tutupnya.
Sementara itu, Kepala Kampung Kayu Indah, Parwanto, menjelaskan peresmian gedung oleh bupati menjadi momentum penting, mengingat kondisi anggaran ke depan yang semakin terbatas.
“Setelah melihat anggaran 2026, rasanya berat untuk membangun. Maka ini momen yang sangat tepat bagi kami,” ungkapnya.
Parwanto memastikan gedung tersebut tidak akan mubazir dan akan dimanfaatkan maksimal sebagai pusat koordinasi lembaga sosial kampung.
“Kami memastikan gedung ini tidak akan mubazir dan akan dimanfaatkan untuk mendukung program kampung,” ujarnya.
Ia menambahkan, selama ini organisasi kampung belum memiliki sekretariat tetap. Sehingga, dengan adanya GST ini, diharapkan menjadi penyemangat kolaborasi dalam membantu pemerintah kampung menjalankan program pembangunan.
“Kami tidak mungkin membangun sendirian. Dengan anggaran minim kami tetap semangat mencari pendapatan asli kampung,” pungkasnya.
Editor: Erwin