Pelaksana Tugas (Plt) Kepala BKPSDM Berau Jaka Siswanto, menjelaskan penyusunan HCDP dan IDP merupakan bagian penting dalam merangkai arah pembangunan daerah, termasuk mendukung penyusunan RKPD ke depan. Namun, ia mengakui proses tersebut tidak lepas dari berbagai dinamika.
“Dalam perjalanannya, banyak dinamika yang terjadi. Ada persoalan-persoalan signifikan, sehingga kami harus melakukan revisi terhadap sejumlah kegiatan agar tetap bisa dilaksanakan,” kata Jaka.
Dampak dari kondisi tersebut membuat beberapa program dan kegiatan terpaksa ditunda pelaksanaannya hingga tahun 2027.
Meski begitu pekerjaan rumah yang ada pada 2026 tetap akan dilanjutkan pada tahun berikutnya. “Pertanyaannya sekarang, apakah kita masih optimis dengan anggaran yang kita miliki saat ini. Ini tentu menjadi tantangan bersama,” katanya.
Sinkronisasi visi pembangunan sangat penting, mulai dari pemerintah pusat, pemerintah provinsi hingga visi bupati dan wakil bupati Berau.
Penyelarasan tersebut menjadi pekerjaan yang tidak mudah, namun krusial dalam memastikan program pembangunan tepat sasaran dan berdampak langsung pada kesejahteraan masyarakat.
“Tujuan akhir dari seluruh proses ini sesungguhnya adalah bagaimana masyarakat bisa lebih sejahtera melalui program-program yang kita rancang,” tegasnya.
Sementara Muhammad Said menegaskan Analisis Kesenjangan Kompetensi Pegawai (AKPK) merupakan instrumen strategis untuk memetakan kebutuhan pengembangan kompetensi ASN agar selaras dengan arah kebijakan pembangunan daerah.
“AKPK bukan sekadar kewajiban administratif, tetapi menjadi dasar penting agar pengembangan kompetensi ASN lebih tepat sasaran, efektif, dan berdampak pada peningkatan kinerja pelayanan publik,” kata Said.
Ia juga menilai penerapan konsep ASN Corpu sebagai langkah transformasional dalam membangun ekosistem pembelajaran berkelanjutan di lingkungan birokrasi.
Melalui ASN Corpu, pengembangan kapasitas ASN diarahkan agar lebih terintegrasi, kolaboratif, dan berbasis kinerja.
“Paradigma pembelajaran ASN harus berubah. Tidak lagi sporadis, tetapi menjadi budaya belajar organisasi yang berkelanjutan sesuai tuntutan jabatan dan tantangan zaman,” tutup Said.
Editor: Aspian Nur