Insiden yang melibatkan dua sepeda motor tersebut diduga dipicu upaya pengendara menghindari lubang di badan jalan.
Warga setempat, Radit menyebut, beberapa titik Jalan di KM 27 tersebut bukan kali pertama memicu kecelakaan.
Beberapa pengendara mengaku sering memperlambat laju kendaraan karena kerusakan jalan yang dinilai cukup parah, terutama saat musim hujan.
“Lubangnya sudah lama, tapi belum diperbaiki. Banyak pengendara yang terpaksa ambil jalur kanan untuk menghindar,” ujar salah satu warga yang melintas.
Di tengah duka atas meninggalnya salah satu korban, peristiwa ini kembali memunculkan desakan agar perbaikan jalan poros segera diprioritaskan, mengingat ruas tersebut merupakan jalur vital penghubung Kelurahan Teluk Bayur dan Kampung Labanan.
Sebab, kecelakaan bukan semata soal kelalaian pengendara, tetapi juga berkaitan dengan minimnya standar keamanan infrastruktur jalan.
“Kondisi jalan yang rusak meningkatkan risiko tabrakan frontal, terutama di jalur dua arah tanpa pembatas. Ini perlu respons cepat dari pihak terkait,” ujarnya.
Sebelumnya, berdasarkan keterangan Kanit Gakkum Satlantas Polres Berau, Iptu Thamrin Harahap, kecelakaan terjadi ketika pengendara Honda Beat berinisial IR mencoba mengalihkan laju kendaraan karena permukaan jalan berlubang, sebelum akhirnya bertabrakan dengan sepeda motor lain dari arah berlawanan.
Untuk itu, pihaknya mengimbau pengendara menurunkan kecepatan di titik rawan, mematuhi rambu, serta meningkatkan kewaspadaan saat melintas di jalur poros.
Hingga kini, satu korban yang luka berat masih menjalani perawatan, sedangkan kerugian materiil diperkirakan mencapai Rp10 juta.
“Tragedi ini menjadi peringatan bersama agar keselamatan jalan tidak hanya dibebankan pada pengguna jalan, tetapi juga pada kualitas sarana prasarana,” pesannya.
Editor: Erwin