Satu diantara langkah yang kini dijalankan adalah pembangunan spot foto selfie di dua titik strategis kota, yakni Dermaga Sanggam dan Taman Cendana.
Program ini digarap oleh sebagai bagian dari upaya memperkuat identitas visual kota sekaligus menjawab kebutuhan masyarakat akan ruang publik yang menarik dan representatif.
Alih-alih membangun destinasi baru berskala besar, Disbudpar Berau memilih memaksimalkan kawasan yang sudah hidup dan akrab dengan aktivitas warga.
Kepala Bidang Pengembangan Destinasi Wisata Disbudpar Berau Samsiah Nawir, melalui Staf Bidang Pengembangan Pariwisata, Andi, menjelaskan bahwa pembangunan spot foto tersebut dilaksanakan secara bersamaan dalam satu paket kegiatan.
Total anggaran yang dialokasikan sebesar Rp249,3 juta dari APBD Kabupaten Berau Tahun Anggaran 2025, mencakup kedua lokasi pembangunan. “Anggaran ini bukan hanya untuk satu titik. Dermaga Sanggam dan Taman Cendana dibangun bersamaan dengan konsep dan penataan yang disesuaikan karakter masing-masing kawasan,” kata Samsiah kepada Korankaltim.com Jum'at (18/12/2025).
Penguatan wisata perkotaan menjadi perhatian karena selama ini daya tarik visual kota dinilai masih terbatas. Masukan dari kalangan akademisi, termasuk hasil kajian dari Universitas Gadjah Mada (UGM) yang menyebutkan bila Berau belum memiliki banyak spot foto ikonik yang mampu merepresentasikan ciri khas daerah dan mudah dikenali secara visual. “Sekarang era media sosial, ruang publik yang estetik punya nilai promosi tinggi," ucapnya.
Melalui foto-foto pengunjung yang diunggah ke media sosial, secara tidak langsung menjadi sarana promosi pariwisata yang efektif dan berkelanjutan.
Lebih dari sekadar latar berfoto, keberadaan spot selfie ini juga diharapkan menjadi pemantik hidupnya aktivitas di kawasan sekitar.
Dermaga Sanggam yang dikenal sebagai ruang rekreasi tepi sungai dan Taman Cendana sebagai ruang hijau kota dinilai memiliki potensi besar untuk mendorong interaksi sosial dan pergerakan ekonomi lokal.
Dengan meningkatnya kunjungan, pelaku UMKM di sekitar lokasi diharapkan ikut merasakan dampak positif, mulai dari peningkatan penjualan hingga munculnya peluang usaha baru. "Ruang publik yang ramai dan tertata juga dinilai mampu menciptakan rasa aman dan nyaman bagi masyarakat," tuturnya.
Pandangan serupa disampaikan Maria, warga Tanjung Redeb yang menilai kehadiran spot foto estetik sangat relevan dengan kebutuhan generasi muda. “Anak muda sekarang mencari ruang publik yang nyaman dan menarik secara visual. Tempat seperti ini bukan cuma buat foto, tapi juga untuk berkumpul dan berinteraksi,” ujarnya.
Menurutnya, Berau masih kekurangan ruang publik yang bisa dinikmati hingga malam hari. Jika fasilitas dirawat dan dikelola dengan baik, kawasan seperti taman kota berpotensi dibuka lebih lama sehingga aktivitas masyarakat tidak terhenti saat malam.
Maria juga berharap fasilitas tersebut dapat dirawat agar manfaatnya bisa dirasakan dalam jangka panjang. “Harapannya bukan hanya jadi tempat foto, tapi juga ruang interaksi yang positif dan bisa mendukung citra Berau sebagai daerah yang ramah untuk anak muda dan wisatawan,” tutup Samsiah.
Editor: Aspian Nur