Dalam kunjungannya, Gamalis melihat langsung kondisi Kampung Gunung Sari dan memastikan penanganan pemerintah berjalan optimal sekaligus mengevaluasi dampak banjir terhadap aktivitas masyarakat.
Gamalis menyampaikan, banjir kali ini tidak terlalu mengancam pemukiman warga karena sebagian besar rumah di Kecamatan Segah merupakan rumah panggung. Namun persoalan utama justru berada pada fasilitas umum.
“Rumah warga relatif aman. Yang menjadi masalah adalah fasilitas umum seperti sekolah dan akses jalan kampung. Ini yang membuat mobilitas masyarakat keluar masuk antar kampung terganggu,” tegasnya.
Ia menegaskan, banjir tidak selalu diukur dari seberapa tinggi air merendam rumah, tetapi seberapa besar gangguan terhadap infrastruktur penunjang kehidupan masyarakat.
Karena itu, peninjauan lapangan dilakukan untuk menentukan langkah antisipatif jika terjadi peningkatan debit air dari wilayah hulu.
“Kita tidak tahu kiriman air dari hulu seperti apa. Karena itu setiap sektor kita koordinasikan agar siaga jika banjir semakin tinggi. Harapan kita tentu tidak terjadi, tetapi kesiapsiagaan harus jalan,” tuturnya.
Gamalis mengungkapkan, pemerintah juga tengah mempersiapkan mitigasi menjelang periode cuaca ekstrem pada pertengahan hingga akhir Desember, yang diprediksi akan diliputi badai siklon dengan intensitas hujan tinggi di Kalimantan Timur bagian utara.
“Kami rapat koordinasi untuk persiapan jelang Nataru. Di akhir tahun ini anggaran juga terbatas karena pemangkasan dan posisi sudah penghujung tahun,” ungkapnya.
“Karena itu kita berharap tidak terjadi bencana besar. Namun pemantauan dan kesiapsiagaan terus dilakukan,” tambahnya.
Sementara itu, Kepala BPBD Berau Mashyadi Muhdi menyebut pihaknya terus memantau perkembangan cuaca melalui komunikasi intensif dengan pusat penerbangan cuaca nasional.
“Kita memantau kondisi cuaca setiap dua sampai tiga jam. Monitoring dilakukan terus, terutama karena siklon berada di sisi utara Kalimantan,” jelasnya.
BPBD juga mendorong langkah mitigasi jangka panjang melalui pembentukan desa tanggap bencana untuk mengantisipasi banjir tahunan, terutama di wilayah yang kerap mengalami kejadian hidrometeorologi.
“Kami sudah sosialisasi dan merencanakan pembentukan lebih banyak desa tanggap bencana agar penanganan di tingkat kampung dapat lebih cepat meski personel kami terbatas,” tambah Masyudi.
Rencana posko akan disiapkan di titik rawan banjir akan menjadi prioritas jangka panjang. Dirinya berharap, puncak musim hujan pada akhir tahun dapat dilalui tanpa kejadian ekstrem.
Namun seluruh unsur OPD, pihak kecamatan hingga aparat kampung telah diberi instruksi untuk tetap siaga penuh.
“Kalau posko permanen tersedia di daerah rawan, kita tidak lagi terlambat merespons. Itu komitmen kita,” tutupnya.
Editor: Erwin