Kepala Kampung (Kakam) Teluk Harapan, Abnir Dani Lupi menegaskan, gelombang laut yang semakin tinggi berdampak langsung pada kualitas air bersih yang menjadi kebutuhan utama warga.
Menurutnya, sistem penyaringan alami selama ini bergantung pada lapisan pasir pantai. Saat daratan pasir semakin habis akibat abrasi, air laut merembes dan mencemari sumber air tawar. “Kalau pasir ini habis, otomatis itu mencemari air bersih,” jelas Abnir.
Pembangunan pemecah ombak yang bertujuan sebagai penahan abrasi dan infrastruktur air bersih secara bersamaan jadi sangat penting untuk dilakukan
Sampai saat ini masyarakat Teluk Harapan mengandalkan sumur bor mandiri akibat keterbatasan sarana air bersih. Namun risiko air laut masuk ke sumber air semakin besar dari tahun ke tahun. “Kalau kami membangun sumber air bersih sementara pantai tidak dijaga atau tidak dibuatkan tanggul, itu akan sia-sia. Sumber air yang dekat sekali dengan laut bisa tercemar lagi,” sebut Abnir.
Usulan penanganan abrasi telah disampaikan sejak 2016 melalui Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) namun hingga kini belum ada realisasi. Pemerintah daerah hanya beralasan bila persoalan tersebut bukan kewenangan kabupaten melainkan kewenangan pemerintah provinsi dan pusat.
“Walaupun itu bukan kewenangan pemerintah daerah, kalau bisa ya menjembatani kami ke provinsi atau ke pusat,” harapnya.
Warga Teluk Harapan juga berharap pemerintah segera turun tangan agar abrasi tidak semakin parah dan kebutuhan air bersih warga tetap terjamin. "Tanpa langkah cepat, kampung kami akan terancam kehilangan sumber air dan daratan secara bersamaan," tutup Abnir.
Editor : Aspian Nur